Silaturahmi 51 Tahun ASITA di Hutan Manggrove Muntig Siokan
Sanur,BTNp: BERTEMPAT di Muntig Siokan, Pantai Mertasari, Sanur DPD ASITA Bali menggelar silaturahmi peringatan 51 Tahun ASITA, pada Sabtu 15 Januari. Muntig Siokan adalah salah satu tempat bersejarah bagi anggota DPD ASITA Bali, digumuk berpasir putih, “loloan” sejumlah sungai terhampar dua hektar hutan mangrove program peduli lingkungan ASITA Bali.
Silaturahmi dengan spirit ” ASITA Bali Bersatu, Pariwisata Bangkit”, tidak hanya dipenuhi sejumlah atraksi, permainan dan music, juga bertebaran doorprice dari sejumlah sponsor. Meski tidak semua anggota dapat menghadiri acara di Sanur, silaturahmi melalui jaringan dunia maya tetap dilakukan. Pasalnya dari 406 anggota dalam regestrasi, terdata 250 anggota masih aktif di dunia maya, yang aktif secara fisik di lapangan dan berorganisasi tidak lebih dari 200 anggota, ungkap Ketua DPD ASITA Bali, Putu Winastra.
Diakui, dalam situasi pandemi, menjadikan semua sektor pembangunan dunia tidak stabil, ASITA tetap mengupayakan program- progam pemulihan kepariwisataan dapat melibatkan anggota ASITA di Bali. Terutama saat penyelenggaraan acara- acara pertemuan internasional yang diselenggarakan negara pada posisi presidensi G-20.
Pada kesempatan tersebut, Ketua DEPETA ASITA Bali, Ketut Tunggu meminta anggota tetap konsisten berbisnis secara beretika. Diingatkan kolaborasi, kebersamaan saling menguatkan, menjadi kunci bertahan didunia perekonomian global.
Duta Destinasi
Masa krisis, tidak menyurutkan anggota ASITA Bali melaksanakan fungsi tugas ASITA yaitu menjadi ambassador /duta kepariwisataan Bali. Ditahun 2022, ASITA mengeksplorasi desa Cau, Blayu, Mengwi, Tabanan untuk masuk memperkaya produk wisata Bali. Mempromosikan sejumlah produk UMKM dampingan anggota selain obajek kunjungan baru yang layak dipasarkan.

Khusus untuk desa wisata Cau, Blayu, ASITA Bali menyarankan pengelola untuk mempertajam keunikan atraksi yang ditawarkan. Pasalnya Bali dengan ribuan desa adat dan dinas memiliki keraifan, keunikan, tradisinya masing- masing. Penguatan kelokalan menjadi tolok ukur keberhasilan desa memberikan nilai tambah bagi desa serta kesejahteraan masyarakatnya.
Dalam acara ekplorasi Desa Wisata Cau, Blayu (12 Januari lalu), pengelola desa menawarkan wisata trekking, berbecak dan kuliner desa. Cau, identik dengan arak kelapa, dan minyak “tanusan”.
ASITA juga berperan aktif sebagai duta lingkungan hidup, terbukti dengan program mangrove yang dimulai 8 Mei tahun 2008. Setiap bulan selama tiga (3) tahun ASITA menyediakan dana Rp.500.000,- untuk perawatan, pemerliharaan tanaman mangrove seputar Muntig Siokan, Sanur.
Ditahun ke empat, sampai April 2019, dana pemeliharaan per bulan ditingkatkan menjadi Rp 1 juta. Namun, hamparan hutan mangrove seluas dua (2) hektar belum dapat dimanfaatkan secara maksimal.
“Pencemaran tinggi, tidak layak untuk atraksi,” ungkap Mangku Ena, Ketua Devisi Lingkungan Hidup DPD ASITA tahun 2008 yang mengawal program tersebut.
BBTF dan Portal ASITA
Ketua DPD ASITA Bali, juga mengingatkan anggota bahwa pandemi mendorong terjadinya shifting market mancanegara ke pasar domestik, namun tidak mudah bagi anggota yang hamper 90 persen adalah pelaku inbound tour.
“Yang mendatangkan wisatawan dari negara luar ke Bali untuk menghasilkan devisa,” tegas Putu Winastra.
Tidak mudah beralih menangani pasar domestik yang tata niaganya pun belum tertata dengan baik dan benar. Dan mendapatkan “kue pasar domestik” yang sudah ada pengelolanya – selama ini, baik biro perjalanan wisata, travel agent bahkan individu-individu penyelenggara opentrips–, tidak semudah membalikkan tangan.
DPD ASITA Bali saat ini sedang mengupayakan perubahan strategi menjangkau pasar internasional dengan meminta perlakuan khusus untuk Bali. Sehingga kebijakan membuka “border” Bali menjadi aktivitas nyata di lapangan.
Upaya- upaya memulihkan pariwisata Bali diimbangi dengan pembenahan secara organisatoris ASITA. ASITA Bali siap dengan portal digital “palu gada” dan tetap melaksanakan event tahunan Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) tahun 2022.*BTNewspaper
