Pinjaman US$2,128 Miliar, Pengurangan Emisi 10 Persen
WASHINGTON, D.C., BTNp: BANK Dunia menyetujui dua investasi signifikan untuk paket pembiayaan campuran senilai total US$2,128 miliar guna menciptakan lapangan kerja, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan akses terhadap energi bersih di seluruh Indonesia. Ini, proyek pertama yang disetujui untuk mendukung Pemerintah Indonesia mencapai status negara berpendapatan tinggi pada tahun 2045.
“Reformasi dan investasi yang kami dukung dengan paket pembiayaan campuran senilai lebih dari US$2 miliar ini, akan membantu melaksanakan prioritas utama pemerintah dan memajukan tujuan bank menciptakan lapangan kerja , memajukan akses energi di salah satu wilayah ekonomi terbesar dan paling dinamis,” Papar Manuela V. Ferro, Wakil Presiden Bank Dunia, Asia Timur dan Pasifik dalam surelnya.
Melalui instrumen pembiayaan campuran, Bank Dunia dan mitra, membantu memobilisasi tambahan US$345 juta dalam investasi swasta untuk membiayai proyek tenaga surya dan angin, sebagai bagian dari program Energi Regional Bank Dunia, jelasnya lebih jauh.
Program reformasi kebijakan senilai US$1,5 miliar Indonesia Productive and Sustainable Investment Development Policy Loan (Pinjaman Kebijakan Pengembangan Investasi Produktif dan Berkelanjutan Indonesia), membantu memperkuat sektor keuangan Indonesia dengan memperluas penggunaan layanan keuangan digital, menghilangkan kendala infrastruktur kredit, memperluas pasar modal, menyesuaikan diri dengan risiko iklim dan bencana alam.
Program juga membantu menghilangkan hambatan dalam pengadaan teknologi energi terbarukan dengan mengurangi persyaratan konten lokal; menyelaraskan kebijakan kawasan industri dengan standar praktik baik internasional tentang lingkungan dan iklim; dan menerapkan mekanisme penangkapan nilai tanah untuk menarik modal swasta dalam pembangunan infrastruktur.
Pengurangan Emisi 10 Persen
Melengkapi reformasi pemberdayaan pasar, program pembiayaan campuran untuk Sustainable Least-Cost Electrification-2 (Elektrifikasi Berbiaya Rendah Berkelanjutan/ISLE-2) memungkinkan akses energi bagi 3,5 juta orang dan pembangkitan tenaga surya serta angin sebesar 540 MW. Diharapkan dapat mengurangi biaya pembangkitan listrik setidaknya 8 (delapan) persen dan emisi gas rumah kaca sebesar 10 persen di wilayah Kalimantan dan Sumatra. Program dibiayai dalam paket pembiayaan campuran, mencakup pinjaman IBRD sebesar US$600 juta, hibah sebesar US$12 juta dari IBRD Surplus-Funded Livable Planet Fund —dana planet layak huni, dan hibah sebesar US$16 juta dari mitra yang dimobilisasi di bawah Inisiatif Mitigasi Risiko Energi Terbarukan Berkelanjutan (SRMI), termasuk hibah sebesar $6 juta dari Inggris melalui Program Bantuan Pengelolaan Sektor Energi (ESMAP) Bank Dunia dan US$10 juta dari program SRMI-2 Dana Iklim Hijau.
Program energi ini merupakan uji coba produk pinjaman bertahap Bank Dunia, yang struktur pembiayaannya menawarkan suku bunga menguntungkan bagi Indonesia selama sembilan tahun dengan insentif bawaan —menarik modal swasta dari waktu ke waktu—. Menyediakan suku bunga lebih rendah selama pelaksanaan dan peluang untuk mengurangi biaya pinjaman jika dibiayai ulang setelah penyelesaian proyek. Program, sejalan dengan pendekatan Originate to Distribute dari Grup Bank Dunia.
Indonesia telah menikmati pertumbuhan ekonomi dan pengelolaan fiskal yang cekatan selama bertahun-tahun, bahkan selama COVID dan dalam konteks permintaan global yang melambat. Rencana pemerintah untuk berinvestasi dalam sumber daya manusia, memastikan semua orang Indonesia memiliki akses ke listrik, dan melaksanakan reformasi sektor keuangan didukung oleh Bank Dunia melalui pengetahuan dan pembiayaan. Pemerintah juga membentuk komite deregulasi yang dapat membuka pendekatan pembiayaan inovatif untuk menarik modal swasta dalam skala besar.
Dengan Proyek ISLE-2, Bank Dunia mendukung Indonesia dalam mencapai akses universal ke listrik dengan biaya paling rendah.
“Dengan lebih dari 3,5 juta orang mendapatkan akses ke listrik, operasi ini diproyeksikan akan mengkatalisasi peningkatan mata pencaharian dan penciptaan lebih banyak dan lebih baik pekerjaan—termasuk melalui elektrifikasi perusahaan yang dipimpin oleh perempuan,” ujar Carolyn Turk, Direktur Divisi untuk Indonesia dan Timor-Leste, menambahkan. * BTNewspaper
