Bali Interfood 2025: Ketahanan Pangan dan Keberlanjutan
DENPASAR, BTNp: DI TAHUN ke-6 penyelenggaraan Bali Interfood, komoditi coklat Bali menjadi unggulan. Ada enam brand pengguna hasil budidaya coklat di Bali, memamerkan, mendemontrasikan tata kelola pengolahan coklat menjadi produk kudapan dan minuman siap konsumsi. Bukti Bali Interfood juga mengedepankan ketahanan dan keberlanjutan produk lokal.
Meski pun “belum” pada tataran green event baik dari kurasi penggunaan produk ramah lingkungan dan penghitungan emisi. Upaya penyempurnaan sudah dilakukan, diperlukan sinergi stake holder pendukung untuk hal tersebut. Berharap ke depan ada praktik zero waste kitchen, tegas Ketua BPD PHRI Bali, Cokorda Oka Artha Ardana Sukawati menjawab balitravelnewspaper.id, disela media breiving Senin, 25 Agustus di gedung Bali Tourism Board.
Acara dua tahunan ini digelar di Nusa Dua pada 10-13 September, menghadirkan 110 peserta, termasuk 40 UMKM dari 17 negara, di antaranya Belgium, China, Germany, Hongkong, Indonesia, Italy, Malaysia, Philippines, Singapore, South Korea, Spain, Spain, Switzerland, Thailand, UK, USA, dan Vietnam,serta menargetkan kehadiran 15.000 pengunjung. Pameran ini bertujuan membuka berbagai peluang bisnis bagi seluruh peserta untuk mempromosikan produk, menjalin kerja sama, sekaligus memberikan kesempatan bagi pengunjung khususnya mereka yang bergerak dalam usaha jasa kepariwisataan di Bali, menemukan beragam inovasi baru dalam industri makanan dan minuman.
Menurut Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali Ida Bagus Agung Partha Adnyana di Bali saat ini beroperasi lebih dari 245 ribu unit usaha kuliner dengan estimasi pendapatan mencapai sekitar Rp 6,8 triliun. Kinerja ini didukung sektor pariwisata.
Data Badan Pusat Statistik Bali menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Bali pada 2025 tetap menunjukkan performa yang solid, dengan sektor akomodasi serta makanan dan minuman menjadi tulang punggung utama kontribusi terhadap perekonomian regional. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, perekonomian Bali pada Triwulan I 2025 tumbuh tinggi sebesar 5,52% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 5,19% (yoy). Pertumbuhan ini juga melampaui capaian nasional yang hanya tumbuh sebesar 4,87% (yoy). Kondisi ini menegaskan bahwa sektor pariwisata dan kuliner memiliki peran strategis dalam mendukung kinerja ekonomi Bali.
Dan hal penggunaan produk lokal dalam bisnis kepariwisataan telah termaktub dan dilaksanakan sejak era pemerintahan Gubernur Bali IB Mantra (alm). Kekhasan dan keunikan gastronomi Bali, menjadi daya saing ditengah gempuran masuknya produk kuliner masyarakat dunia. Melalui Bali Interfood, tampilan gastronomi tradisi Bali di “kekiniankan”, Cok Ace menambahkan.
Raw Material -Kemasan
Pameran ini menghadirkan beragam produk dan inovasi internasional di sektor makanan & minuman, bahan kue, peralatan horeca & baking, serta teknologi dan layanan pendukung. Dipersiapkan ruang khusus Bali Hotel & Tourism, Bali Coffee Expo, Bali Wine & Spirit, dan Bakery Indonesia Expo 2025. Ajang menemukan teknologi terbaru di bidang makanan, minuman, kopi, teh, wine, bakery, horeca, jasa boga, bahan baku, dari teknologi pengolahan sampai pengemasan. Pameran ini diharapkan dapat menjadi etalase bagi ragam kuliner Indonesia sekaligus mendukung pertumbuhan pariwisata dan membuka peluang bisnis baru di sektor makanan dan minuman.
Menurut CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim, Bali Interfood 2025 merupakan rangkaian pameran makanan dan minuman yang digelar Krista Exhibitions di tiga kota besar di Indonesia, Surabaya melalui East Food Indonesia, Bali dengan Bali Interfood, dan puncaknya pada 12–15 November 2025 di JIExpo Kemayoran Jakarta dengan tema SIAL (Salon International de l’Alimentation) Interfood yang diikuti lebih dari 1.200 peserta pameran dari 25 negara.
Pada Bali Interfood 2025, kegiatan business matching akan menjadi ajang pertemuan strategis antara peserta pameran dengan buyer, distributor, dan investor, membuka peluang kerjasama baru sekaligus memperluas jaringan usaha di sektor makanan, minuman, dan horeka. Pameran ini juga menghadirkan beragam program inspiratif, mulai dari Cooking Demo Catcher Gourmet bertema “Catcher Gourmet – Flavor Forum”, Cooking Demo Pabrik Powder “Dialogue in a Cup of Tea”, hingga talkshow dan edukasi sustainability practices dari Cocoa Sustainability Partnership (CSP).
Bali Interfood 2025 terbuka bagi pelaku bisnis, buyer dan importir, distributor, pelaku usaha hotel, restoran, kafe, dan catering (HORECA), hingga perwakilan retail modern dan tradisional. Pameran ini juga menjadi ajang strategis bagi franchise, produsen bahan baku, serta investor yang ingin menjajaki peluang kerjasama dan memperluas jaringan bisnis di industri makanan, minuman, dan horeka. *BTNewspaper
