Merayakan Galungan: Iman dan Imun di DTW Tanah Lot
SAAT merayakan Umanis Galungan — sehari setelah Galungan—, umat Hindu melaksanakan persembahyanga di pura- pura diluar wilayah desanya, sembari mengunjungi sanak saudara atau rekreasi bersama keluarga ke destinasi wisata.

Dalam situasi pandemi dengan sejumlah pembatasan- pembatasan, tidak menyurutkan masyarakat Hindu melaksanakan ke wajibannya, meski tidak semeriah perayaan Galungan sebelum pandemi mendera. Seperti suasana di DTW Tanah Lot, pura yang menjadi destinasi wisata kondang ini selama perayaan Galungan didominasi masyarakat Hindu yang melaksanakan persembahyangan. Kunjungan wisatawan — nusantara– sebanyak 383 orang saat Galungan (Rabu,14 April) dan 1.307 pada Umanis Galungan (Kamis, 15 April).
Perayaan Galungan sangat tepat dalam pelaksanaan konsep “iman dan imun” ProKes COVID-19. Ibadah tetap dijalan kan dan memohon pandemi segera berlalu, bagian iman umat beragama. Usai sembahyang, melakukan silahturahmi antar umat, berekreasi menikmati nyanyian alam yang setahun melakukan healing secara alamiah, bagian meningkatkan “imun nurani” ditengah pembatasan- pembatasan gerak. Berwisata — seperti diungkapkan pihak UNWTO– sudah menjadi kebutuhan primer umat manusia di dunia.
Senang dan Sedih
“Saat Galungan, memang lebih banyak umat bersembahyang yang datang. Hari Manis Galungan, wisatawan lokal dengan keluarga yang lebih banyak dan wisatawan domestik juga ada”, jelas Wayan Sudiana, Manager Operasional DTW Tanah Lot.
Bagi umat Hindu, usai sembahyang di Pura Luhur Tanah Lot, mereka berekreasi santai sembari menikmati surudan (sesajen seusai dipersembahkan kepada Hyang Pencipta yang berstana di Tanah Lot) . Mereka juga menyempatkan diri menikmati kuliner khas Tanah Lot dan berburu sovenir. Seperti diketahui selama pandemi dan pelaksanaan PPKM di Bali, usaha UMKM di Tanah Lot mengikuti aturan ProKes dengan ketat. Tidak semua kuliner dan belanja sovenir beroperasi, mereka telah memiliki jadual beroperasi yang tlah diatur menejemen pengelola Tanah Lot.
Berwisata ke Tanah Lot di masa pandemi dengan tatacara baru bagi Dima Indahwati, seorang wisatawan nusantara dari Surabaya, merasa senang juga sedih dengan situasi pariwisata Bali saat ini.
“Senangnya, bisa puas berfoto sesuai spot yang diinginkan, namun sedih juga karena biasanya Tanah Lot dari dulu selalu penuh wisatawan. Mudah-mudahan bisa segera normal kayak dulu”, ungkapnya.
Adalah Putu Yani,warga Tabanan yang berasal dari tetangga desa Tanah Lot. Meski tidak dapat bersembahyang dipelataran Pura Luhur Tanah Lot karena air laut pasang naik. Putu Yani dan umat Hindu lainnya, bersembahyang di Pura Penyawangan.
“Usai sembahyang, kita rekreasi menunggu matahari tenggelam. Berbagi ceritera dengan saudara- saudara yang bertemu di pura. Dan menikmati rujak Tanah Lot,” ujarnya. *BTNewspaper/e
