Pariwisata Bali di Tengah Pandemi COVID-19

MELIHAT data statistik (BPS Provinsi Bali), jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali mencapai 6,2 juta pada akhir tahun 2019. Angka ini naik sekitar 3,0% dari tahun 2018 yang mencapai kisaran 6,1 juta wisman. Disamping itu, Bali sering dinobatkan menjadi destinasi terbaik dunia
Pada TRAVELERS CHOICE AWARD 2019, Bali menduduki peringkat empat terbaik dunia, dimana pada tahun 2018, Bali juga menduduki peringkat yang sama destinasi terbaik dunia. Kejutan pada tahun 2020, Bali menduduki peringkat I mengalahkan London dan Paris yang biasa bertengger di atas.
Kini, Pandemi COVID19 mengakibatkan pariwisata Bali mengalami penurunan yang sangat drastis hingga minus 82% dari kunjungan tahun 2019 atau hanya 1,0 juta wisman dalam setahun. Pariwisata Bali benar-benar lumpuh, hotel, restorant, villa, destinasi wisata, dan semua fasillitas penunjang pariwisata hampir dan beberapa ada yang sudah tutup. Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro yang terus diperpanjang oleh pemerintah juga menjadi penyebabnya. Perpanjangan ini dilakukan karena pemerintah menilai PPKM berhasil menurunkan kurva kasus COVID-19 di Indonesia.
Dunia pendidikan juga terdampak. Tidak ada lagi program magang (training) untuk sekolah, baik dari sekolah menengah (SMK Pariwisata) maupun LPK/LKP sampai perguruan tinggi. Ini disebabkan karena perusahaan tidak memperpanjang karyawan kontrak, mewajibkan karyawan untuk mengambil hak cuti bahkan mengambil cuti yang tidak dibayar (unpaid leave) bahkan ada yang benar-benar dirumahkan, sehingga mengakibatkan terjadinya lonjakan tingkat pengangguran di Bali yang menurut BPS mencapai 144.500 orang atau mengalami peningkatan 267,8% (yoy) di akhir tahun 2020.
“Banyak juga karyawan hotel yang OTG (orang tanpa gaji),” ujar I Gede Sukarta, Ketua Bali Villa Association (BVA) sambil menambahkan, gelombang berikutnya warga Bali akan kelaparan bila pariwisata ini tak dapat ditanggulangi dengan baik..
Sementara itu pakar Subak (Irigasi Pertanian Bali), Prof. I Wayan Windia menilai sudah saatnya Bali harus kembali ke jati dirinya yaitu mengembangkan agriculture (budaya pertanian). “Ini segera dibangkitkan dan dilaksanakan. Jadi, tidak hanya mengandalkan tourism-culture (pariwisata budaya) yang sejatinya hanya menjadi jargon untuk menjual dan mengkomersialkan Bali,” katanya. Contohnya adalah bagaimana perjuangan Prof Wayan Windia bersama petani untuk melestarikan Subak di Bali.
“Nasib subak di Bali kini terancam, meski sudah meraih penghargaan sebagai warisan dunia dari UNESCO pada 2012. Salah satu penyebabnya, lahan pertanian menyempit karena alih fungsi jadi hunian,” kata Prof yang terus menerus berupaya keras melestarikan Subak.
Merujuk data yang dimiliki Windia, tiap tahun 750 hektare dari total 80 ribu hektare pertanian subak beralih fungsi. Lahan pertanian tersebut menjadi hunian dan kawasan bisnis di tengah arus pariwisata Bali yang terus menggeliat. ”Subak di Bali sedang sakit,” ucapnya. Padahal, sistem subak yang mengimplementasikan prinsip Tri Hita Karana (THK) menjadi penyokong kelestarian alam di Bali. Prinsip THK mencakup hubungan yang harmonis antara parahyangan, palemahan, dan pawongan. Yakni hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama manusia. v BTNewspaper
