Apa Kabar Kita (2)?: Festival Air Bali

Apa Kabar Kita (2)?: Festival Air Bali

Share it

Denpasar, BTNp.id: BERTEMPAT di Taman Inspirasi Muntig Siokan, Desa Adat Intaran, Sanur Kauh, Denpasar Selatan, hari ini sejumlah NGO dan komunitas berkolaborasi “memetakan jalan air Bali” melalui sebuah festival bertajuk Apa Kabar Kita (2) Festival Air Bali.

Festival kolaboratif ini merespon krisis air dan berbagai persoalan lingkungan yang menjadikan “Bali makin rentan” sebagai salah satu pulau kecil. Salah satu destinasi wisata dunia, menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sumber daya air. Pertumbuhan pariwisata yang pesat, urbanisasi, dan krisis iklim telah memberikan tekanan besar pada sumber daya air yang tersedia. Lonjakan permintaan air baik untuk kebutuhan domestik maupun komersial semakin memperparah krisis ini.

Kendati pembangunan Bali yang berlangsung begitu pesat dan masif hari ini memberikan dampak positif bagi perekonomian. Pada saat bersamaan,  memicu rupa-rupa masalah, termasuk kelangkaan dan penurunan kualitas air bersih. Sementara skema tata kelola air Bali yang berkelanjutan dan partisipatif belum hadir.

Laporan dari Walhi Bali menunjukkan bahwa penggunaan air di Bali telah melebihi kapasitas siklus hidrologi, sementara intrusi air laut telah terjadi di beberapa daerah wisata utama seperti Sanur dan Kuta. Di daerah Kerobokan dan Uma Alas, terdapat lebih dari 1.000 villa yang semuanya memiliki kolam renang, mengindikasikan adanya lebih dari 1.000 sumur bor.

Di Denpasar, terdapat 1.088 sumur bor berizin dengan volume pengambilan air tanah sekitar 4.183.452 m3 pada November 2010. Jika ditambahkan dengan pengambilan air oleh PDAM Denpasar, maka total eksplorasi air tanah mencapai sekitar 59.602.326 m3 per tahun.

Sementara itu, penurunan muka air tanah di Cekungan Air Tanah Denpasar-Tabanan tercatat sebesar 1,4 – 29,2 meter dalam kurun waktu 1985 – 2004. Kondisi ini diperparah oleh distribusi air yang tidak merata dan kecenderungan privatisasi air yang menciptakan ketidakadilan dalam akses air bersih antara masyarakat lokal dan industri pariwisata.

Konflik Kepentingan akan Air Bersih

Mei lalu, Bali menjadi tuan rumah kegiatan World Water Forum (WWF) yang dihadiri oleh 9.477 delegasi dari 104 negara. Forum ini membahas masalah krisis air yang juga mulai dialami oleh dunia. Pada kesempatan tersebut mengemuka temuan riset yang dilakukan oleh Ni Gusti Putu Dinda Mahadewi, Ni Luh Fenny Sulistya Murty, dan Ufiya Amirah hal ketidakadilan terkait pasokan air. Riset tersebut menunjukkan bahwa daerah Nusa Dua, lokasi di mana forum tersebut dilaksanakan, tidak mengalami kesulitan dalam mengakses air bersih.

Kondisi ini sangat kontras dengan daerah Kuta Selatan yang berada tidak jauh dari Nusa Dua. Masyarakat di Kuta Selatan menghadapi masalah serius terkait kelangkaan air bersih selama periode yang sama. Hingga hari ini, pascaforum tersebut, belum ada langkah konkret yang diambil dalam menghadapi krisis air, terutama di Bali.

Adalah Yayasan IDEP Selaras Alam (IDEP), sejak 2012,  melalui program Bali Water Protection (BWP) berupaya mencegah krisis air di Bali. Program ini fokus pada adaptasi dan mitigasi di sembilan kabupaten/kota dengan langkah konkret seperti membangun 62 sumur imbuhan untuk memanen air hujan dan mencegah intrusi air laut.

BWP juga melakukan kampanye dan edukasi konservasi air di lebih dari 300 sekolah, menanam 15.000 pohon, serta mengadakan pelatihan dan lokakarya. Program ini juga mendorong perbaikan kebijakan tata kelola air melalui riset dan advokasi dalam skema pentahelix.

Selain IDEP, ada banyak pihak dengan kapasitas dan aksinya juga berupaya untuk menyelesaikan masalah ini, mulai dari pemerintah hingga kelompok masyarakat. Mengingat isu air ini sangat kompleks dan saling mempengaruhi isu lain berhubungan dengan penghidupan masyarakat —seperti mata pencaharian, pangan, kesehatan, energi, lingkungan, dan dampak krisis iklim yang menghadirkan ketidakadilan iklim,– dibutuhkan  upaya terkoordinasi dan partisipatif yang lebih besar dari semua pihak untuk mulai merumuskan Peta Jalan Air Bali. Langkah konkret seluruh pihak untuk menghasilkan solusi bersama terhadap masalah bersama.

Tradisi Bibit jadi Tiket Masuk

Hari ini acara Apa Kabar Kita (2) Festival Air Bali, dengan semangat urun data, urun daya, urun karya, dan urun dana, termasuk didalamnya tradisi tiket masuk area Taman Inspirasi Muntig Siokan  berupa “bibit tanaman”, hadir dalam berbagai bentuk.

Festival terbuka untuk publik berupa Diskusi Kelompok Terfokus (FGD) terkait isu air di Bali untuk menghasilkan rancangan awal Peta Jalan Air Bali. Dengan semangat kolaborasi, FGD ini akan melibatkan pemerintah, akademisi dan peneliti, kelompok masyarakat, perwakilan bisnis, NGO dan komunitas, kelompok asosiasi dan praktisi, forum-forum koordinasi, budayawan, perwakilan kelompok disabilitas, perwakilan kelompok perempuan, dan kelompok orang muda.

Seri coffee talks berjudul “Apa Kabar Bali?” yang mempercakapkan berbagai isu publik, berkaitan soal air dan lingkungan. Ada lokakarya, pojok edukasi anak, pasar rakyat, pameran karya, pojok curhat warga, dan podcast sunset mendiskusikan beberapa media kampanye yang dihasilkan orang muda tentang konservasi air Bali.

Festival juga membuka panggung hiburan rakyat di siang dan malam hari. Beberapa seniman yang akan hadir di panggung hiburan rakyat tersebut adalah Tony Q Rastafara, Joni Agung and Double T, Nanoe Biru, Berry Fun, Made Mawut, Gus Molo, Casadaga, The Kelors, dan kawan- kawan.

Inisiatif “Apa Kabar Kita” hadir pertama kali tahun 2022 bertepatan dengan pertemuan G20 untuk menciptakan ruang publik yang inklusif dan aman bagi warga untuk berkomunikasi dan menyuarakan pikiran mereka. Tujuannya adalah memfasilitasi dialog setara antara masyarakat dan pengambil keputusan. Saat itu, ada delapan organisasi masyarakat sipil yang menginisiasi acara ini, termasuk Yayasan Madani, debWATCH Indonesia, Yayasan Pikul, IDEP, TemanMu, Walhi Bali, Kekal, dan Frontier.

Pada perhelatan “Apa Kabar Kita (2): Festival Air Bali” kolaboratornya antara lain IDEP, Temanmu, BUPDA Intaran, Kelompok Peduli Sungai Intaran, Yayasan PIKUL, PPLH Bali, Yayasan Abdi Bumi, Kekal, Frontier, debtWATCH, World Resource Indonesia (WRI), 350 Indonesia, Madani Berkelanjutan, WALHI Bali, IAGI Bali, Pasraman Air, Balebengong, Omah Laras, Rumansa, Liqufy, Kisara, Jendranath, Bali Buda, Pasar Gemah Ripah, Water Stewardship Indonesia, Taksu Bali, Sirah Bali Info, Insta Bali Musik, Bali Musikgram, Info Konser Bali.

Cara “Apa Kabar Kita (2): Festival Air Bali”, salah satu langkah awal bagi publik berkontribusi dalam pelestarian lingkungan.  Sila datang, panitia penyelenggara menyediakan bibit pohon di lokasi acara untuk dibeli para pengunjung. Seluruh bibit pohon dan hasil penjualannya didonasikan ke Komunitas Sungai Bahari. Partisipasi aktif dari masyarakat sangat penting untuk menciptakan kesadaran kolektif dan tindakan nyata dalam menjaga kelestarian air di Bali dan juga isu lingkungan lain yang saling berkelindan. *BTNewspaper


Share it

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *