Sanur, Rumah Balinale

Sanur, Rumah Balinale

Share it

Sanur, BTNp:  BALI International Film Festival (Balinale) edisi ke-18, diagendakan 1–7 Juni 2025, di Sanur. Melalui kekuatan cerita dan kolaborasi budaya, Sanur bukan hanya menjadi tujuan wisata, tetapi juga sumber inspirasi dunia. Dan sudah selayaknya menjadi rumah penyelenggaraan Balinale. Demikian dijelaskan Deborah Gabinetti, Pendiri dan Direktur Festival atas keputusan strategis untuk berpindah ke Sanur.

Menurut Ida Bagus Gede Sidharta Putra (Gusde), Ketua Yayasan Pembangunan Sanur, kehadiran Balinale sejalan dengan visi menjadikan Sanur sebagai destinasi kelas dunia untuk seni, wellness, dan industri kreatif, sembari tetap menjaga kekayaan budaya melalui Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan dan Pariwisata Wellness Sanur.

Pembukaan Balinale ke 18, Minggu petang (1 Juni) di Sanur, dengan penanyangan film animasi pemenang Academy® Award 2025, FLOW, yang disutradarai oleh Gints Zilbalodis (Latvia). Dalam sepekan pelaksanaan Balinale diagendakan tayang film naratif berjudul The Healer – Giuseppe Carleo (Italia), Lykke Post Partum – Alexe Landgren, Karen Helene Haugaard (Swedia), Seeking Haven for Mr. Rambo – Khaled Mansour (Mesir), A Place Far From Home – Diana Mashanova (Rusia) dan Ravens – Mark Gill (Jepang).

Film documenter antara lain Champions of the Golden Valley – Ben Sturgulewski (AS), Loot– A Story of Crime And Redemption – Don Millar (Kanada), Opera as Lifeforce – Gunilla Palo Nordlund (Swedia), Scars of Growth – Monika Grassl, Linda Osusky (Austria, Jerman), Paint Me a Road Out of Here – Catherine Gund (AS). Dan dimalam penutupan, ditayangkan dua film IMAX yang syuting di Indonesia: Under the Sea oleh Howard Hall (AS, Kanada) dan Born to be Wild oleh David Lickley (AS).

Melanjutkan tradisinya, Balinale 2025 menampilkan program dinamis yang mencakup film-film dari Indonesia dan internasional, forum industri, serta acara budaya berbasis komunitas. Diagendakan  tayang 60 film, hasil kurasi 1.500 pendaftar dari 35 negara.

“Ada film pendek dan dokumenter yang dipilih berdasarkan alur cerita, detail, pesan, dan gaungnya untuk banyak orang. Sampai saat ini sudah ada hingga 1.500 film dari 35 negara yang mendaftar untuk dikurasi pada Balinale 2025,“ ucap Deborah.

Berkaca dari penyelenggaraan Balinale pada beberapa edisi sebelumnya, kegiatan ini juga memiliki dampak terhadap peningkatan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bali khususnya Denpasar. Untuk informasi, Festival Film Balinale sudah bergulir sejak 2007 silam. Menyajikan beragam film, termasuk film pendek, dokumenter, film naratif, serta karya eksperimental. Setiap tahun beragam film karya sineas dari berbagai negara didaftarkan dalam Balinale. Penyelenggara mengkurasi dan 60-80 karya yang memenuhi standar ditayangkan dalam pekan Balinale.

Balinale  ke -17 (tahun 2024) sukses dengan 60 film dari 25 negara, 41 di antaranya tayang perdana. Melibatkan 100 lebih produser film, selibriti dan professional diindutri perfilman, menarik lebih dari 5.600 pengunjang, penikmat film. Balinale dikenal dikalangan profesional industri melalui forum-forum kolaborasi dan berbagi, tidak hanya hal perfilman. Juga membangun program afiliasi pertukaran budaya, dan mendukung pengembangan komunitas kreatif.

Diplomasi dan Propaganda

Mewakili komitmen pemerintah Indonesia dalam pengembangan ekonomi kreatif, Agustini Rahayu, Deputi Bidang Kreativitas Media di Kementerian Ekonomi Kreatif, menekankan peran industri film dalam mendorong inovasi, kebanggaan nasional, dan kolaborasi lintas batas:

“Ekonomi kreatif berkembang ketika kita mengangkat cerita-cerita kita dengan inovasi, keaslian, dan relevansi global. Film, sebagai salah satu dari 17 subsektor prioritas, memiliki kekuatan besar, tidak hanya untuk menghibur, tetapi juga untuk mencerminkan identitas kita, berbagi nilai-nilai kita, dan memperluas pengaruh budaya kita secara internasional. Balinale menjadi contoh bagaimana festival dapat menjembatani kreator dengan dunia sambil membuka peluang ekonomi nyata bagi talenta lokal. Kami bangga mendukung media seperti ini yang memberdayakan kelas kreatif Indonesia dan merangsang pengembangan regional.”

Lebih lanjut dijelaskan bahwa visi Kementerian Ekonomi Kreatif di tahun 2030, Indonesia menjadi salah satu dari tiga ekonomi kreatif teratas dunia. Untuk mencapainya, diperkuat  kolaborasi antara pemerintah, industri, dan komunitas. Festival seperti Balinale adalah mitra esensial dalam perjalanan tersebut.

Karya film adalah alat positif diplomasi dan propaganda potensi negara, ungkapnya disela pembukaan Balinale ke-18 di Sanur, Minggu 1 juni di Sanur. *BTNewspaper


Share it

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *