zoom meeting ASITA

ASITA Bali: Tidak Membawa Agenda Politik ke Organisasi

Share it

Denpasar, BTNp: MUSDA XIV ASITA Bali dijadwalkan pada Rabu, 25 Agustus 2021 mengusung tema  “Dengan Semangat CHSE, ASITA Menyongsong Pariwisata Era Baru“, menampilkan empat kandidat Ketua DPD dan dua kandidat Ketua DEPETA ASITA Bali.

Dalam perjalanan kepariwisataan Bali, DPD ASITA Bali pernah dipimpin Ketut Wiharsa (alm.) (1974-1975), John Ketut Pantja (alm) dua periode masa jabatan tahun 1975-1976 dan tahun 1976-1978. Kepemimpinan I Ketut Pater Suarsha (alm.) tahun 1978 – 1980, Susilo Joyosumarto (alm.) tahun 1980 – 1982 dan 1982 – 1984, I Wayan Widjaja (alm) tahun 1984 – 1986, I Wayan T. Suarshana periode 1986 – 1988. DPD ASITA Bali dipimpin I Gusti Bagus Yudhara, MBA selama empat periode pada tahun 1988 – 1991, tahun 1991 – 1994, tahun 1994 – 1997 dan tahun 1997 – 2003, digantikan I Gusti Agung Prana (alm) tahun 2003 – 2004, Bagus Sudibya tahun 2004 – 2006, Al Purwa, MBA tahun 2006 – 2012.

Menjawab balitravelnewspaper.id, menurut Ketua DPD ASITA Bali Periode (2006 – 2012) Al Purwa, MBA, ASITA sebagai organisasi bidang usaha kepariwisataan memerlukan kepemimpinan kolektif kolegial.

“Pilih ketua, pemimpin yang tidak membawa agenda politik ke organisasi. Ketua yang mementingkan urusan anggota dan bukan urusan perusahaannya sendiri. Pilih Ketua yang knowledgeable dan capable dibidang pariwisata dan mendatangkan wisatawan ke Bali. Seseorang yang sudah punya usaha mumpuni supaya ada waktu lebih untuk memikirkan anggota. Punya prinsip independent, tegas dan mampu memimpin secara kolektif kolegial,” tegasnya.

Diharapkan anggota ASITA yang berstatus anggota penuh untuk menggunakan hak pilihnya, sebagai pertanggungjawaban anggota kepada asosiasi dan sebagai warga negara.

Paham AD/ART

Hal senada juga disampaikan Ketua empat (4) periode (1988 – 2003) DPD ASITA Bali, I Gusti Bagus Yudhara, MBA. Senior dibidang usaha jasa biro perjalanan wisata ini meminta semua anggota memenuhi hak dan kewajibannya sebagai anggota.

Jika ada persoalan, kembali pada aturan organisasi, kembali pada AD/ART organisasi yang dibangun di Bali tahun 1974. Pasalnya ASITA yang selama ini menjadi motor penggerak kepariwisataan Indonesia memiliki aturan jelas, teruji dan terukur.

 “Saya meminta semua pihak menyelesaikan masalah organisasi sesuai aturan sistem yang telah dibangun dalam organisasi. ASITA dibangun dengan komitmen dan perjuangan panjang, kembali ke aturan organisasi, pahami AD/ART.

Berkaitan dengan MUSDA, sebagai senior saya mengingatkan anggota ASITA Bali, bahwa asosiasi memerlukan leader yang memahami ASITA sebagai organisasi, bisa menjaga agar tidak menyimpang dari konsep dasar didirikannya ASITA. Mampu membawa organisasi ketujuan yang diinginkan seluruh anggota ASITA. Menjaga kebersamaan, saling mendukung menguatkan satu dengan lainnya.

Pemimpin yang mampu membawa ASITA tetap menjadi barometer asosiasi professional di kalangan asosiasi kepariwisataan. Tetap menjadikan ASITA sebagai lokomotif industri pariwisata. Pemimpin yang memperjuangkan anggota dan mendukung pemerintah dalam pembangunan kepariwisataan”, tegas I Gst Bagus Yudhara. *


Share it

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *