Terapkan Konsep Padma Bhuana dalam “Medical Tourism”

Share it

BALI memiliki keunikan yang terletak pada kekuatan budaya dalam menarik kunjungan wisatawan. Jika dibandingkan dengan alam, destinasi lain memiliki keindahan tersendiri. Tetapi Bali memiliki budaya dan keramahan masyarakat dalam menghadapi dan memadukan diri dengan lingkungan alam semestanya. Sehingga pihaknya sangat mengapresiasi keinginan yayasan Bina Bangsa Unggul untuk pengembangan Bali sebagai medical destination. Hal ini disampaikan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, saat menerima audensi secara virtual dari Yayasan Bina Bangsa Unggul, di ruang kerjanya.

Bali yang menjadi destinasi kunjungan wisatawan mancanegara — sebelum pandemi COVID-19–, selayaknya memiliki fasilitas health and wellness yang mumpuni. Bagi wisatawan dengan gangguan kesehatan khusus atau memiliki penyakit krusial yang kambuh dalam kunjungan wisatanya mendapatkan penanganan dengan baik. Tidak harus dikirim  ke Singapura atau Australia, sedangkan Bali juga memiliki cukup tenaga dokter dengan keahliannya sebagai penunjang medical destination.

Ditambahkannya, Bali dengan 10% alam buatan tentu saja masih kalah jauh dengan tempat atau destinasi lainnya, namun masyarakat yang ramah dengan rasa toleransi  tinggi serta kentalnya adat istiadat, menjadikan Bali memiliki kelebihan dan daya tarik untuk dikunjungi.

Bali, tegas Wagub Bali, mengejawantahkan visi pembangunan Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang merupakan penegasan konsep Tri Hita Karana dengan kaitannya terhadap turunan konsep tata ruang di Bali.

Turunan dari konsep tradisi kembali ke tanah atau konsep padma bhuana atau teratai dengan implementasi dengan tata ruang sangat harmoni dengan alam. Bali, dari karakter wilayah memiliki kekuatan spiritual yang mengatur Bali dengan sembilan (9) dewa sebagai penjaganya.

“Namun kita fokus kepada   lima (5) dewa saja. Yang mana tengah ada Dewa Ciwa, kekuatannya adalah seni dan budaya,  dikembangkan dikawasan Gianyar dan Klungkung. Di Klungkung segera dibangun pusat kebudayaan Bali di atas lahan seluas 275 hektar, sedangkan pusat kesenian  di garap di Ubud,” ungkap Wagub Cok Ace.

Kawasan utara merupakan letak Dewa Wisnu, berfokus pada sumber daya air, dijadikan pusat konservasi alam, yakni kawasan Bedugul dan Batur. Sehingga pengunjung wilayah tersebut  adalah mereka yang ingin berbaur dengan alam langsung.

Kawasan timur, letak Dewa Iswara sebagai tempat terbitnya matahari dianggap sebagai kawasan suci. Di belahan timur Bali nampak sangat banyak didirikan pura Sad Kahyangan dan menjadi pusat spiritual bagi masyarakat Hindu di Bali.

Sedangkan selatan, merupakan tempat Dewa Brahma dipercaya sebagai dapurnya pulau Bali. Dimana wisatawan yang masuk ke Bali melalui pintu bandara Ngurah Rai terletak di selatan, dan mereka sebagian besar memilih tinggal di hotel yang tersedia di kawasan Badung dan juga Sanur. Sehingga devisa yang masuk ke Bali melalui belahan Bali bagian selatan akan diatur juga bagi tujuh (7) Kabupaten lain yang ada di Bali. Dan barat sebagai tempatnya Dewa Sangkara merupakan kawasan pengembangan perekonomian khususnya disektor perikanan. Karena Bali barat memiliki wilayah laut yang menghubungkan Bali dengan Jawa. Sehingga dengan diterapkannya konsep padma bhuana ini diharapkan mampu menyeimbangkan Bali. *BTNewspa


Share it

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *