Ida Bagus Lolec Surakusuma Selamat Jalan, Terimakasih

Ida Bagus “Lolec” Surakusuma: Selamat Jalan, Terimakasih

Share it

MENGENALNYA sebagai kartunis. Makin intens berkomunikasi dan belajar keahlian praktis kepariwisataan ketika saya ditempatkan pada pos berita ekonomi dan pariwisata. Berlanjut saat ikut membidani kelahiran tabload Bali Travel News (Batrav), media kepariwisataan terbit dua mingguan dalam dua bahasa.

Ida Bagus Surakusuma, akrab dengan nickname ‘Gus Lolec, kelahiran Denpasar 28 Oktober 1950, dilingkungan Griya Telabah, Pemecutan, Denpasar Bali. Naik kekemuliaan pada Minggu 2 Juli 2023, upacara kremasi diselenggarakan Senin, 10 Juli 2023 di Setra Badung.

Lulusan Akademi Bahasa Asing Jakarta tahun 1997, memulai kariernya sebagai pramuwisata di sebuah travel agent. Managing Director PT Bali Tour and Travel ini, di tahun 1990 menjabat sebagai Managing Director PT Pacific World Nusantara dan per Juli 2006 dipercaya sebagai Regional Country Manager Pacific World Nusantara.

Sempat menghadapi “protes’ dari seorang general manager chain hotel di Nusa Dua atas karya kartun ‘pak Lolec’ yang memenggal nama hotelnya menjadi “meme”—she “rat” on—. Mengkritisi “keliru” persepsi hal trickledown effect investasi kepariwisataan yang ketergantungan pada investor dari “luar’ kawasan. Sementara investasi terukur dan yang tak terukur di kawasan diabaikan.

Dan pada saat itu, kami sempat membahas kebocoran ipoleksosbud hankam Bali atas nama kepariwisataan. Bapak tiga putra-putri dan 13 cucu suami IB Loleq telah melihat, merasakan dan menjadi korban ekologi kepariwisataan Bali yang telah menyimpang dari track kepariwisataan itu sendiri, yaitu mengamankan, memberdayakan –bukanmemperdayakan— tepat guna, tepat daya, mensejahterakan ipoleksusbud hankam kawasan dimana kepariwisataan dikembangkan.

“Kita sendiri sebagai tuan rumah, juga kurang menerapkan unteng, nilai Tri Hita Karana dalam keseharian, baik dari dimensi ekonomi maupun sosial. Tidak mampu membawa nilai hakiki tersebut ke dalam kancah persaingan dunia usaha. Jadi Bali untuk pariwisata bukan kepariwisataan untuk Bali,” ujarnya ketika itu.

Ketua Indonesia Congress and Convention Association(INCCA) Bali yang aktif di Bali Tourism Friend (BTF) bersama Hadi Taryoto, Agung Prana (almarhum), IGB Yudhara, Made Mandra, Gede Nurjaya dan B.Ashrama (almarhum), sempat meminta stake holder kepariwisataan konsisten melaksanakan UU No 10 tahun 2009. Khususnya dalam pemberdayaan fungsi lembaga GIPI (Gabungan Industri Pariwisata Indonesia) dan BBPI (Badan Promosi Pariwisata Indonesia), secara professional. Dan dengan BTF juga mengusulkan manajemen destinasi tunggal untuk kepariwisataan Bali.

Pada suami Ida Ayu Wirantini Utari ini, saya belajar best practice kepariwisataan, belajar “rimba raya” bisnis MICE (Meeting Incentive Conference and Exhibition), “abu- abunya” bisnis kapal pesiar di Indonesia. Memahami trik- trik biding MICE dan belajar dari setiap penyelenggaraan pasar wisata dalam dan luar negeri. Ya, dunia kepariwisataan itu tidak hanya gemerlap, sisi gelapnya pun dalam dan kelam.

“Dunia bisnis yang kita bebas memilih “mau” kemana arahnya. Kendali tetap pada nurani. Karenanya penting memahami dan menjalankan Kode Etik Pariwisata Global yang “unteng” nya pada Tri Hita Karana,” tugasnya mengingatkan.

Menurut IB Lolec, kepariwisataan bukan sekadar teori, ilmu wacana, lebih ke praktik lapangan. Sepakat jika pemahaman kepariwisataan masuk dalam literasi pendidikan dini sebagai muatan lokal, mengacu pada konsep kepariwisataan itu sendiri —respek kelokalan—. Jasa mengelola manusia, kemanusiaan dan ekologi lingkungan baik ditingkat makro mau pun mikro.

Selamat jalan Konsul Polandia (pensiun Maret 2020), terang wajahNya menyambut di dunia sana. May the abandoned families be given fortitude and strength. Terimakasih. *  Dwi


Share it

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *