“Global Tourism Resilience Day” : Pariwisata Tangguh Berkelanjutan?
DENPASAR, BTNp: TAHUKAH Anda? Bahwa pariwisata mendukung jutaan lapangan pekerjaan langsung dan tidak langsung di seluruh dunia, khususnya bagi perempuan dan kaum muda. [Laporan A/77/219]
Untuk beberapa negara kepulauan kecil dan negara berkembang, pariwisata menyumbang lebih dari 20 persen produk domestik bruto (PDB).
Kontribusi ekonomi pariwisata (PDB langsung pariwisata) diperkirakan mencapai $1,9 triliun pada tahun 2021, lebih tinggi dari $1,6 triliun yang tercatat pada tahun 2020, tetapi masih jauh di bawah nilai pra-pandemi sebesar $3,5 triliun.
Pariwisata merupakan industri lintas sektor yang berkontribusi pada tiga dimensi pembangunan berkelanjutan dan pencapaian SDG’s –UN-Tourism—
Dan Hari Ketahanan Pariwisata Global (17 Februari), dicanangkan oleh Majelis Umum PBB dalam resolusi A/RES/77/269. Bertujuan mendorong pembangunan pariwisata yang tangguh untuk menghadapi guncangan, dengan mempertimbangkan kerentanan sektor pariwisata terhadap keadaan darurat. Resolusi ini, merupakan seruan bagi Negara Anggota untuk mengembangkan strategi nasional rehabilitasi pasca-gangguan, termasuk melalui kerja sama swasta-publik, diversifikasi kegiatan dan produk.
Tangguh dan Berkelanjutan
Di bulan Februari 2024 lalu, Majelis Umum PBB memutuskan untuk mencanangkan tahun 2027 sebagai International Year of Sustainable and Resilient Tourism —Tahun Internasional Pariwisata Tangguh dan Berkelanjutan.—
Majelis Umum mendorong semua negara, anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan semua pelaku lainnya untuk memanfaatkan Tahun Internasional guna mempromosikan praktik kinerja kepariwisataannya “yang tangguh berkelanjutan” di semua tingkatan. Termasuk best practice melalui kerja sama internasional, untuk mendukung pariwisata tangguh berkelanjutan sebagai sarana mempromosikan dan mempercepat pembangunan berkelanjutan.
Pada peringatan Global Tourism Resilience Day 2025, PBB, mengingatkan kembali bahwa bagi negara berkembang, termasuk negara-negara paling tidak berkembang, negara-negara kepulauan, dan negara-negara berpenghasilan menengah, pariwisata merupakan sumber pendapatan utama, pendapatan dari mata uang asing, pendapatan pajak, dan lapangan kerja. Karena pariwisata menghubungkan manusia dengan alam, pariwisata berkelanjutan memiliki kemampuan unik untuk memacu “tanggung jawab” dan konservasi lingkungan.
Pariwisata berkelanjutan, termasuk ekowisata, merupakan kegiatan lintas sektor yang dapat berkontribusi pada tiga dimensi pembangunan berkelanjutan dan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan dengan mendorong pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan, menciptakan lapangan kerja dan produktif, serta pekerjaan yang layak untuk semua.
Pariwisata berkelanjutan dapat berperan dalam mempercepat perubahan menuju pola konsumsi, produksi yang lebih berkelanjutan. Mendorong pemanfaatan sumber daya laut, samudra, kelautan secara berkelanjutan, dan mendorong budaya lokal. Meningkatkan kualitas hidup, pemberdayaan ekonomi perempuan dan kaum muda, masyarakat adat, masyarakat lokal, serta mendorong pembangunan pedesaan, menumbuhkan kondisi kehidupan yang lebih baik bagi penduduk pedesaan.
Pemanfaatan pariwisata tangguh berkelanjutan sebagai alat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif berkelanjutan, pembangunan sosial, dan memungkinkan formalisasi sektor informal, mendorong mobilisasi sumber daya domestik, pemberantasan kemiskinan dan kelaparan. Perlindungan lingkungan, termasuk konservasi dan pemanfaatan keanekaragaman hayati dan sumber daya alam secara berkelanjutan. Serta mendorong investasi, kewirausahaan dalam pariwisata berkelanjutan. *BTNewspaper
