Perempuan di Sektor Transportasi Pariwisata: 6% di Udara, 3% di Darat, 12% di Air
MADRID, BTNp: PEREMPUAN membentuk 36% ekosistem pekerja penerbangan, hanya 6% jadi pilot, laki-laki mendominasi posisi teknis, kokpit, dan kepemimpinan. Sebesar 96% pekerja transportasi pariwisata berada di transportasi penumpang darat, hanya 3% dari kaum perempuan pegang kendali. 12% pekerja transportasi penumpang air adalah perempuan, dengan kesenjangan signifikan dalam peran manajerial dan teknis. Hal keselamatan, sanitasi, dan perlindungan hukum tetap menjadi hambatan utaman berperannya perempuan dalam kinerja transportasi. Satu dari lima negara masih kekurangan perlindungan hukum terhadap pelecehan di tempat kerja.
Demikian antara lain kajian UN Tourism dan Federasi Pekerja Transportasi Internasional (ITF) dalam Laporan Global tentang Perempuan di Bisnis Transportasi Pariwisata. Laporan global pertama tentang perempuan di sektor transportasi pariwisata pada Juni 2026, mengungkap ketimpangan gender ekstrem serta menetapkan rencana aksi tiga tahun untuk membongkar ketidaksetaraan struktural tersebut
“Pariwisata dimaksudkan untuk menghubungkan orang dan membuka pintu. Namun di setiap bagian transportasi pariwisata, terlalu banyak pintu tertutup bagi perempuan. Laporan ini memberi kita data untuk bertindak dengan tepat, bukan hanya dengan niat baik. Tanggung jawab kita sekarang adalah memastikan bahwa perempuan —yang menjaga industri ini tetap berjalan— juga mampu membantu memimpinnya,” tegas Sekretaris Jenderal UN Tourism, Shaikha Al Nuwais, saat meluncurkan laporan tersebut.
Laporan memaparkan data bahwa perempuan masih sangat kurang terwakili di seluruh transportasi pariwisata, khususnya dalam peran teknis, pengemudi, dan kepemimpinan. Menjadi basis bukti pertama yang memisahkan— berdasarkan jenis kelamin— tentang pekerja perempuan di transportasi penumpang udara, darat, dan air. Laporan ini mengidentifikasi hambatan hukum, budaya, dan struktural yang membatasi akses perempuan terhadap pekerjaan layak, kemajuan karir, dan kepemimpinan. Temuan menunjukkan bahwa transportasi pariwisata masih sangat didominasi laki-laki.
Rencana Aksi
Sebagai tanggapan, UN Tourism dan ITF telah menandatangani rencana kerja konkret selama tiga tahun untuk mewujudkan rencana aksi bagi perempuan dalam transportasi pariwisata. Kemitraan ini melibatkan pihak pemerintah, pekerja, serikat pekerja, dan mitra industri untuk memperkuat kebijakan yang responsif gender, meningkatkan kondisi kerja, memperluas pelatihan dan peluang kepemimpinan, serta meningkatkan pengukuran dan pelaporan.
Pada kesempatan tersebut, Sekretaris Jenderal ITF Stephen Cotton mengatakan: “Peluncuran laporan ini bukanlah akhir dari cerita, melainkan permulaan. ITF dan UN Tourism berkomitmen untuk bekerja sama dengan pemerintah, pengusaha, serikat pekerja, dan mitra industri dalam mengatasi ketidaksetaraan di seluruh transportasi pariwisata. Fokus kami sekarang adalah mengubah bukti menjadi tindakan.” *BTNewspaper
