“Subak”, Kelindan Mencari Makan dan Ibadah Dipandu Tri Hita Karana
Seorang pengunjung di subak Jatiluwih belajar tehnik menggunakan ani-ani. @dok.ist/Maria Eka Risti
MEMASUKI bulan Juni, dinamika masyarakat di kawasan situs warisan budaya dunia UNESCO, Jatiluwih makin hangat dan semarak. Sejak subuh anggota sekehe Manyi —bagian ekosistem subak— telah bergerak menuju petakan sawah siap dituai. Mereka bukan “buruh tani” yang bekerja demi upah harian. Mereka adalah bagian dari Sekeha, kelompok kerja tradisional, garda depan penjaga 15 tahapan ritual sakral Subak.
Seperti diketahui dari beberapa literasi, sistem irigasi tradisional —Subak— di Bali bukan sekadar teknik pengairan pertanian, melainkan sebuah manifestasi spiritual dari filosofi Tri Hita Karana (tiga penyebab keharmonisan: hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan). Dalam organisasi Subak, asas keadilan dan gotong royong diwujudkan melalui pembentukan sekehe (kelompok kerja/sub-organisasi internal). Sistem ini memastikan bahwa pekerjaan berat di sawah tidak ditanggung sendiri oleh satu petani, melainkan dibagi secara adil berdasarkan keahlian dan kebutuhan seluruh anggota (Krama Subak).
Kelindan harmoni sosial dan spiritual tersebut memastikan lanskap Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO ini tetap bernapas. Di bawah ikatan filosofi Tri Hita Karana (keharmonisan antara Tuhan, manusia, dan alam), setiap jengkal tanah dan tetes air di Jatiluwih dikelola melalui orkestrasi kerja dan doa tepat ruang dan waktu. Pada akhirnya berkah kelimpahan “ibu pertiwi” dari area subak Jatiluwih, terhidang di meja makan berupa ‘nasi beras merah”.
Jika berkesempatan hadir pada acara Jatuluwih Festival 2026 yang digelar akhir pekan ini, (20-21 Juni), Anda dapat melihat wujud penerapan konsep hidup berkesadaran spiritual tersebut dalam keseharian subak. Festival tahunan yang dirancang untuk merayakan, mengedukasi, dan melestarikan warisan alam serta tradisi pertanian desa Jatiluwih. Serangkaian acara digelar di area Jatiluwih Rice Terrace —Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO–, mengusung konsep ramah lingkungan yang berlandaskan filosofi Tri Hita Karana (keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan). Pengunjung dapat terlibat langsung dalam pelestarian alam, seperti aktivitas panen raya massal bersama para petani lokal.
Disisi edukasi, festival memperkenalkan 15 tahapan proses budaya Subak, disemarakkan dengan penampilkan berbagai parade budaya, pertunjukan tari tradisional Bali, pameran kuliner khas berbasis beras merah organik, serta produk kerajinan UMKM lokal.
Di tahun ke tujuh gelar Jatiluwih Festival, event ini secara administratif masuk dalam agenda Karisma Event Nusantara (KEN) dan menambahkan dimensi sport tourism menyambut 100 Tahun Kepariwisataan Bali dengan menyelenggarakan fun run 5K. Dengan target peserta 2000 pelari di track santai menyusuri jalur subak, berlatar belakang sawah menguning siap tuai.
Bukan Cangkul, Tetapi Doa

Pada proses budaya subak, Anda dapat melihat manifestasi spiritual filosofi Tri Hita Karana berjalan linier melalui 15 tahapan ritual sakral yang mengiringi siklus hidup padi dari awal pengolahan tanah hingga padi masuk ke dalam lumbung. Proses tersebut:
Babak Pertama: Mengetuk Pintu Langit (Parahyangan)
Siklus hidup padi merah organik di Jatiluwih dimulai “Bukan” dengan cangkul, melainkan dengan sesajen. Pada tahap awal ini, ego manusia ditundukkan di hadapan Sang Pencipta melalui lima ritual pembuka. Bermula dari Mapag Toya, ritual menjemput air di bendungan utama. Di sini, Seka Toya (kelompok pengairan) yang dipimpin oleh seorang Pekaseh (Ketua Subak) berkumpul untuk memohon agar air mengalir tanpa rintangan.
Setelah izin dari langit didapatkan, petani memulai tahap Ngendagin (membuka lahan). Pada fase inilah Seka Matekap (kelompok membajak) beraksi. Dengan deru napas sapi atau kerbau tradisional, mereka membalik tanah bersama-sama. Di era kekinian dengan ragam “alasannya”, membajak tergantikan dengan mesin traktor, pilihan.
Kebersamaan ini berlanjut pada ritual Ngwiwit saat benih disemai, dilanjutkan dengan Ngerasakin untuk membersihkan sisa energi negatif di lahan, dan ditutup dengan Ngusaba Pemijilan untuk menyambut helai demi helai daun hijau yang mulai menyembul dari rahim bumi.
Babak Kedua: Berdamai dengan Alam (Palemahan)
Ketika hamparan sawah mulai menghijau, fokus beralih pada hubungan manusia dengan bentang alamnya. Lima tahap berikutnya menguji bagaimana para petani memperlakukan alam tanpa merusaknya. Tahap Nedunang Toya adalah ujian keadilan terbesar. Anggota Seka Toya meronda siang dan malam untuk memastikan Tektek—bilah kayu pengukur celah air tradisional—membagi debit air secara adil ke hilir. Sembari air mengalir, Seka Mula (kelompok menanam) yang didominasi ibu-ibu bergerak mundur dengan ritmis, menancapkan bibit dengan jarak geometris yang secara ekologis memberi ruang bagi bibit padi bertumbuh.
Perawatan berlanjut pada tahap Mewangun (penyiangan rumput), diikuti ritual Banten Pengempok saat bulir padi mulai tumbuh, dan ritual Biu Kukung ketika padi “hamil” tua. Altar bambu kecil bernama Sanggah Cukcuk ditancapkan di sudut sawah sebagai penghormatan kepada Dewi Sri. Untuk menangkal serangan hama pada periode tertentu umur padi, petani menggelar ritual Ngusaba Nangluk Merana . Mereka berkolaborasi dengan alam menggunakan predator alami seperti burung hantu yang disiapkan oleh Seka Pengendalian Hama.
Babak Ketiga: Merayakan Kebersamaan Manusia (Pawongan)
Puncak dari seluruh lelah dan doa bermuara pada lima tahap akhir, saat padi menguning dengan bulir bernas siap dipanen. Sebelum ani-ani pertama menyentuh batang padi, seluruh krama Subak berkumpul di Pura Bedugul dalam ritual Ngusaba Nini untuk menyatukan waktu panen. Padi terbaik kemudian dipilih dan dihias menyerupai sepasang pengantin dalam ritual Mantenin Padi sebagai simbol penghormatan roh padi.
Melalui tahap Nganyi/Manyi (panen raya), Seka Manyi (kelompok panen) bergerak masif bak gelombang. Nah, ini kesempatan bagi pengunjung untuk ikutserta menikmati pengalaman turun ke sawah memotong padi menggunakan ani- ani —alat khusus warisan nenek-moyang petani–. Hasil panen tersebut kemudian diangkut secara estafet dalam tahap Ngakut, sebelum disimpan dengan khidmat di dalam lumbung desa (jineng) pada tahap penutup, Munggah Sunari. Ritual ini menutup siklus dengan doa agar persediaan pangan komunitas aman hingga musim tanam berikutnya.
Selamat mencoba ani-ani dan memotong padi di Jatiluwih Festival. *BTNewspaper
