“Sangkala Tiga” dalam Esensi Galungan
DENPASAR, BTNp: ADALAH Dirjen Bimas Hindu RI, Prof. Duija,M.Si dalam podcast menyambut perayaan Galungan 2026, mengingatkan agar umat Hindu tidak terjebak pada rutinitas penyiapan sarana upakara jasmani, melupakan esensi rohaninya. Ditjen Bimas Hindu berharap umat dapat merayakan Hari Raya Galungan dengan penuh kesadaran spiritual, sehingga kedamaian dan kemenangan dharma yang sejati dapat terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Inti dari kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (keburukan) dimulai dari penaklukan ego dan nafsu di dalam diri sendiri selama periode “Sangkala Tiga”.
“Bukan sekadar perayaan pada Hari Galungan —pasti sudah menyiapkan pisang, buah, dan lain sebagainya—,”tegasnya.
Mengenai fenomena Sangkala Tiga —tiga hari krusial menjelang Galungan (Penyekeban, Penyajaan, dan Penampahan), yang dikaitkan dengan Sang Bhuta Galungan, Bhuta Dungulan dan Bhuta Amangkurat—, dalam konteks ini tidak semata berafiliasi dengan wujud makhluk jahat yang menyeramkan. Tiga peristiwa atau hari menjelang Galungan menjadi momentum terpenting bagi umat untuk melakukan mawas diri (pengendalian diri).
Disebutkan dalam pustaka-pustaka terkait, “Sangkala Tiga”adalah simbol angkara (keletehan). Umat berperang, bukan melawan musuh berbentuk fisik, tetapi kala keletehan dan adharma.
Menurut Prof. Duija, Sangkala Tiga mewakili tiga sifat atau godaan ego manusia yang muncul dalam 3 hari menjelang Galungan, yaitu: mudah emosi atau mudah marah.Timbul rasa iri saat melihat pencapaian atau postingan orang lain. Malas beribadah/ke pura padahal biasanya rajin
Lebih jauh dipaparkan perayaan Galungan bukan hanya tentang menyiapkan buah dan perlengkapan upacara, melainkan sebuah proses pembelajaran mental dan spiritual. Umat Hindu diharapkan untuk merefleksikan dan menaklukkan tiga sifat buruk tersebut agar Dharma (kebenaran) benar-benar menang melawan Adharma (kejahatan) di dalam diri manusia.
Mawas diri jika tetiba mengalami perubahan mood tidak wajar selama tiga hari krusial tersebut. Mengendalikan pikiran dan emosi adalah bentuk nyata dari pelaksanaan ajaran agama Hindu. Dan “Sangkala Tiga” menjelang Galungan, adalah simbol ujian kesadaran, bukan sekadar cerita penakut. *BTNewspaper
