Indonesia Defisit 1,4 Juta Kantong Darah

Indonesia Defisit 1,4 Juta Kantong Darah

Share it

JAKARTA, BTNp: MENURUT data Palang Merah Indonesia (PMI), setiap delapan detik ada seseorang membutuhkan transfusi darah. Namun negara menghadapi defisit tahunan mencapai 1,4 juta kantong darah.

Data terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan meskipun pengumpulan darah global meningkat sebesar 19% selama dekade terakhir, ketimpangan sistemik dan kerentanan rantai pasok yang kritis membayangi negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Di Indonesia, kesenjangan tersebut masih lebar: jika idealnya dibutuhkan sekitar 5,6 juta kantong darah per tahun —memenuhi kebutuhan medis darurat dan rutin—, jumlah pengumpulan nyata saat ini masih di kisaran 4 hingga 4,2 juta kantong.

Memperingati Hari Donor Darah Sedunia pada 14 Juni 2026 di bawah slogan kampanye global “One Drop of Humanity. Give Blood. Save Lives” (Satu Tetes Kemanusiaan. Berikan Darah. Selamatkan Jiwa), WHO bersama para advokat kesehatan, mendesak investasi infrastruktur nasional secara agresif guna menghentikan kematian yang sebenarnya bisa dicegah.

“Tidak boleh ada seorang pun yang meninggal hanya karena darah yang aman tidak tersedia saat dibutuhkan,” tegas Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.

“Data ini menunjukkan kemajuan yang membesarkan hati, terutama dalam meningkatnya kontribusi donor darah sukarela tanpa imbalan di seluruh dunia,  juga mengingatkan kita bahwa tempat tinggal seseorang masih menentukan apakah mereka memiliki akses ke unit transfusi darah?,” ujar Tedros Adhanom Ghebreyesus, lebih lanjut.

Realita di Indonesia:

Dalam laporan WHO, termaktub ketimpangan nyata di seluruh wilayah kepulauan;

* Kesenjangan Antar-Pulau:

Sementara pusat-pusat metropolitan besar seperti Jakarta dapat mempertahankan gerakan donor yang kuat. Data pusat PMI menunjukkan bahwa kekurangan stok darah berada pada tingkat paling parah di luar Pulau Jawa, khususnya di wilayah Indonesia Tengah dan Timur.

* Gaya Hidup Donor yang Masih Rendah:

WHO memperkirakan bahwa setidaknya 2% dari total populasi suatu negara harus mendonorkan darah secara teratur untuk menstabilkan sistem kesehatan. Saat ini, baru sekitar 1% dari penduduk Indonesia yang rutin mendonorkan darahnya.

* Fluktuasi Donor Sukarela:

Secara global, negara-negara maju mengamankan 98,4% pasokan darah mereka dari para pahlawan sukarela tanpa imbalan. Pada kelompok negara berpenghasilan rendah-menengah seperti Indonesia, sistem kesehatan masih mengalami fluktuasi pasokan dan sangat terganggu selama momen kalender lokal tertentu, seperti bulan Ramadan atau krisis kesehatan regional.

Pasien yang Menanti Kepastian

Defisit nasional sebesar 1,4 juta kantong tersebut berdampak langsung pada populasi rentan di rumah sakit Indonesia setiap harinya:

* Ibu Melahirkan: Para ibu yang berjuang melawan pendarahan pasca melahirkan (hemoragi), salah satu penyebab utama mortalitas maternal di tingkat regional.

* Anak-anak: Balita yang menderita anemia akut, gizi buruk, atau krisis nutrisi.

* Pasien Kronis: Ribuan individu hidup dengan kelainan darah genetik seperti talasemia dan anemia sel sabit yang membutuhkan transfusi rutin seumur hidup.

* Layanan Darurat: Korban kecelakaan lalu lintas, luka bakar parah, serta pasien yang menjalani operasi bedah kritis.

Medical and Health Tourism

Defisit pasokan darah nasional yang mencapai 1,4 juta kantong per tahun, juga menjadi tantangan capaian Bali menjadi pusat wisata medis (medical and health tourism). Pasalnya, deposit pasokan darah, dapat menginterupsi operasional layanan medis premium dan merusak reputasi keamanan medis Bali di mata wisatawan internasional.

Ancaman ini terasa kian nyata seiring beroperasinya infrastruktur strategis seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan Sanur. Rumah sakit berskala internasional di Bali yang memfokuskan layanan pada bedah jantung, ortopedi, onkologi, hingga bedah estetika sangat bergantung pada stabilitas pasokan darah untuk menjamin keselamatan pasien.

Krisis Rhesus Negatif

Pengamat pariwisata medis menilai dampak terbesar akan dirasakan pada penanganan pasien asing yang memiliki karakteristik klinis berbeda dengan warga lokal. Lebih dari 90% wisatawan mancanegara memiliki golongan darah Rhesus Negatif (Rh-), sementara pemilik Rh- di Indonesia, termasuk Bali, tercatat kurang dari 1%.

“Jika terjadi defisit stok nasional, pasokan darah langka seperti Rh- akan semakin sulit diakses. Penundaan operasi elektif bagi turis medis tidak hanya merugikan mereka secara finansial karena biaya akomodasi yang membengkak, tetapi juga menurunkan tingkat kepercayaan terhadap sistem kesehatan kita,” ujar salah seorang praktisi manajemen rumah sakit yang akhir bulan Juni menyelenggarakan workshop “Health Tourism Community Empowerment” di Bali.

Ancaman Daya Saing Regional

Ketidakpastian pasokan darah ini menempatkan Bali pada posisi rentan dalam persaingan ketat dengan destinasi wisata medis di Asia Tenggara, seperti Malaysia dan Singapura. Ketahanan sistem kesehatan, termasuk jaminan ketersediaan darah, menjadi salah satu indikator utama yang dinilai oleh lembaga akreditasi internasional dan agen asuransi global saat merekomendasikan destinasi medis ke pasien.

Jika kendala ini tidak segera diatasi melalui mitigasi taktis, aliran wisatawan medis —diharapkan mendongkrak devisa negara— berisiko beralih ke negara tetangga yang ketahanan donor darah lebih stabil.

Celah Sistem

Evaluasi WHO terhadap 132 negara menyoroti isu tata kelola serius, menggema dalam upaya desentralisasi lokal. Hampir sepertiga negara di dunia tidak memiliki undang-undang mutu yang spesifik, dan lebih dari 1 dari 7 negara sama sekali tidak memiliki alokasi anggaran untuk infrastruktur keamanan darah, sehingga operasional berjalan tidak berkelanjutan.

Para ahli menekankan bahwa titik hambatan utama sering terjadi pada Unit Transfusi Darah (UTD) individu, yang menghadapi ketidakpastian pasokan, kemacetan jalur distribusi, serta kurangnya koordinasi terpadu lintas batas provinsi.

Poin Panggilan Aksi

Untuk membangun sistem kesehatan yang tangguh dan merata di seluruh pulau, WHO bersama koalisi kesehatan menyerukan kepada Pemerintah Indonesia untuk segera:

Memperkuat kolaborasi antar-UTD dengan membangun sinkronisasi jaringan digital nasional agar dapat mentransfer stok darah secara lancar dari zona pasokan tinggi ke wilayah yang mengalami defisit.

Mengalihkan pendanaan keamanan darah ke dalam alokasi anggaran wajib pemerintah dan stabil, tidak bergantung pada program pemulihan biaya (cost-recovery) lokal. Memperluas jangkauan mobile & digital serta menjadikan donor darah sebagai gaya hidup masyarakat yang membanggakan, dengan target demografi muda yang melek teknologi.

Mempercepat proses jaminan mutu, perizinan, serta akreditasi wajib di seluruh fasilitas medis pedesaan. Menyusun dukungan struktural dan program edukasi secara aktif, mengikis ketergantungan pada donor pengganti (keluarga) atau donor berisiko tinggi, demi beralih sepenuhnya ke donor sukarela tanpa imbalan.

Sembari Liburan

Khusus untuk destinasi medical and health tourism, sejumlah pihak mendorong rumah sakit internasional mengambil langkah proaktif. Salah satunya dengan membangun database donor berjalan (on-call) terintegrasi dengan komunitas ekspatriat dan turis jangka panjang di Bali.

Selain itu, sektor swasta dan pemerintah daerah didorong untuk mengemas program wellness tourism inovatif berupa kampanye kemanusiaan. Donor sembari liburan. Melalui program ini, wisatawan asing —yang sehat— diminta mendonorkan darah mereka selama masa liburan di Bali, sebagai langkah cepat menambal kekosongan stok darah Rhesus Negatif di destinasi. *WHO/BTNewspaper


Share it

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *