NYEPI, BE HAPPY

NYEPI, BE HAPPY

Share it

UMAT Hindu Nusantara menghayati makna Nyepi dengan sipeng (hening). Bukan sekedar hari suci yang berulang-ulang setiap tahun, namun momentum patinget bagi umat manusia mengenal esensi kehidupan dan hakekat kebahagiaan. Mengimplementasikan Catur Brata (empat disiplin): amati gni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), amati lelanguan (tidak mengibur diri).

Di Bali suasana benar-benar sepi, gelap gulita, tanpa ada aktivitas di luar rumah, bandara dan pelabuhan tutup, provider seluler dan stasiun TV pun tidak beroperasi.

Dalam hening, Catur Brata mengajak menyelami nilai luhur kehidupan lebih dalam. Gerakan kesadaran yang tidak hanya dipraktekkan saat Nyepi, namun menjadi penuntun urip sehari-hari. Dengan tidak menyalakan api, manusia diajak berhati-hati mengobarkan api emosi. Senantiasa eling mengendalikan amarah. Emosional terkontrol cenderung membawa manusia lebih jernih melihat hakekat kebenaran. Ketika emosi terkendali, batin pun tenang.

Tatkala dianjurkan tidak bekerja seharian, bukan berarti mengajak bermalas-malasan, namun melakukan kontemplasi, menenangkan aktivitas jiwa, raga dan pikiran. Momentum pengingat agar memiliki kecakapan kontrol dalam segala aktivitas dan kerja. Pun belajar menenangkan pikiran sebagai “pusat kontrol raga”, karena pikiran cendrung liar, melanglang entah kemana, seperti “kera gila” meloncat kesana-kemari.

Ketika kita dianjurkan tidak bepergian seharian keluar rumah, sejatinya memberi ruang pada sang jiwa lebih fokus mengenal apa yang ada di dalam rumahnya, mengenal siapa sesungguhnya “diri”. Sebagai ruang renungan batin dan mulat sarira membuka kembali catatan-catatan sancita karmaphala (karma masa lalu). Sehingga memunculkan kesadaran batin spiritual yang senantiasa menuntun ke arah baik, bijak dan mendatangkan bajik.

Demikian juga dengan anjuran tidak menghibur diri saat Nyepi, kita kembali diajak menyatukan indria-indria fokus ke pusat kontrolnya. Mengingat indria manusia cendrung terjerumus ke dalam penikmatan, kadang sulit dipuaskan. Bagaimana hiburan kadang kala membawa manusia terjerumus pada penikmatan yang kebablasan, hedonism, cendrung membawa diri lupa akan jati diri, larut pada pesona hiburan dan hanya ngulurin indria (keinginan membabibuta). Bahkan terkadang engsap ken raga (lupa diri).

Nyepi menjadi formula dalam kurun waktu setahun sekali, membangkitkan ingatan  manusia di tengah aneka rupa kesibukan mayapada, untuk menyadari diri sebagai manusa jati (manusia sesungguhnya). Agar waktu tumimbal lahir ke dunia ini tidak terbuang begitu saja mengejar kenikmatan dan kebahagiaan semu. Ruang urip yang semestinya diisi kebajikan, berlalu begitu saja.

Para bijak sering memberi wejangan bahwa dari ruang kebajikan yang tumbuh dari kesadaran dalam hati, jiwa dan pikiran pun tenang, sehingga manusia cenderung mengenal dan memahami siapa dirinya. Menjadi manusia tenang, mampu memahami dan membedakan mana kebahagiaan semu dan kebahagiaan sejati.

Tempayan dan Air

Mpu Kanwa dalam Kakawin Arjuna Wiwaha menganalogikan sang pencari hakekat kehidupan, seperti tempayan berisi air. Jika tempayan tenang dan berisi air jenih, bayangan bulan tampak sangat cerah dan indah. Demikian juga pada ia yang tenang mampu melihat siapa sesungguhnya hakikat dirinya.

Nyepi nan hening, sejatinya mengajak mulat sarira (instrospeksi diri), seperti mengupas kulit bawang semakin ke dalam semakin halus. Hingga menembus kedalaman lapis demi lapis panca mayakosa (lima lapisan badan). Dari anamayakosa (badan fisik), pranamayakosa napas dan prana/energi vital), manomayakosa (pikiran dan emosi), vijnanamayakosa (daya intelek dan kecerdasan), akhirnya sampai tahapan ananda mayakosa (lapisan kebahagiaan/kecerdasan spiritual).

Momentum Nyepi juga mengajak dan mengajarkan pada umat manusia bahwa manusia perlu berkesadaran, melihat sesungguhnya cakrawala kehidupan. Bukan fenomena kehidupan semu, semakin membawa atman (jiwa/sang diri) terpasung maya dan tidak sadar berasal dari percikan terkecil dari Ida Sang Hyang Widhi.

Nyepi menuntun hidup dan Sang Jiwa menuju pada hakekat happy, seperti tujuan agama Hindu yakni, moksartham jagadhita (kebahagiaan dunia dan akhirat). * I Made Arista


Share it

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *