Pariwisata Berkualitas ?
BADUNG, BTNp: SERIKAT Media Siber Indonesia (SMSI) Badung, awal Minggu (Selasa, 20 Mei) menyelenggarakan diskusi nasional hal Pariwisata Berkualitas. Menghadirkan pembicara tuan rumah pejabat Pemkab Badung diwakili Sekda Badung, Deputi Bidang Produk Pariwisata dan Penyelenggara Kegiatan Kementerian Pariwisata RI., Ketua BPD PHRI Bali, President Commissioner Kura-Kura Bali, dan akademisi yang juga pengamat kebijakan publik Prof.Dr. I Nengah Dasi Astawa, M.Si, bertempat di Gedung Puspem Badung.
Pada kesempatan tersebut Pemkab Badung mengakui sektor pariwisata menjadi sektor andalan dan tulang punggung perekonomian Kabupaten Badung. Kontributor besar PAD, berperan penting dan strategis sebagai salah satu sumber penerimaan devisa.
Badung ke depan menetapkan visi “mewujudkan pariwisata Badung yang berkualitas berlandaskan nilai- nilai nangun sat kerthi loka Bali” Dijabarkan dalam tujuh misi “sapta kriya adi cipta” terdiri dari:
-memperkokoh kerukunan hidup umat beragama serta melestarikan tradisi, seni, adat dan budaya Bali.
-meningkatkan kualitas kehidupan karma Badung dibidang pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan sosial.
-menciptakan pusat- pusat pertumbuhan ekonomi baru secara merata.
-mengintegrasikan pembangunan sector pertanian dengan pariwisata.
-meningkatkan kualitas infrastruktur publik di kawasan pariwisata, permukiman serta membangun jaringan jalan baru.
-mewujudkan tata kelola pemerintah yang transparan, akuntable dan professional.
-meningkatkan pariwisata Badung berkualitas.
Pariwisata berkualitas adalah pendekatan pariwisata yang menekankan pada pengalaman wisatawan yang lebih bermakna, berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi sosial dan lingkungan bagi masyarakat setempat. Hal ini mencakup aspek- aspek seperti memenuhi standar pelayanan, belanja wisatawan yang tinggi pada produk lokal, serta penghormatan terhadap nilai budaya dan lingkungan.
Yang menjadi referensi dalam mendefinisikan pariwisata berkualitas adalah: Peraturan daerah provinsi Bali No.5 tahun 2020 tentang standar penyelenggaraan kepariwisataan budaya Bali dan peraturan gubernur Bali No. 28 tahun 2020 tentang tata kelola pariwisata budaya Bali.
Pariwisata berkualitas dari sisi wisatawan menurut PerGub Bali No 28 tahun2020 adalah wisatawan yang menghormati nilai- nilai budaya Bali, tradisi dan kearifan lokal, ramah lingkungan, waktu tinggal lebih lama, berbelanja lebih banyak, memberdayakan sumber daya lokal, melakukan kunjungan ulang dan berlaku tertib.
Dilihat dari sisi Badung sebagai destinasi berkualitas, hal ini mencakup daya tarik, aksesibilitas serta sarana, prasarana berkualitas. Destinasi berkualitas adalah pariwisata dimana terdapat pengelolaan daya Tarik dan industi pariwisata professional, tertata dengan standar yang ditentukan dalam Perda No.5 tahun 2020. Memiliki alam dan lingkungan yang lestari, terdapat kesadaran tinggi dari masyarakat untuk menjaga dan melestarikan alam lingkungan. Memiliki budaya sebagai daya Tarik wisata yang terjaga dan dilestarikan oleh masyarakat sebagai bagian kehidupan sehari- hari. Memiliki usaha penunjang daya tarik, memiliki petugas pemberi informasi, memiliki sarana dan prasarana transportasi berkualitas. Tersedia jaringan lirtrik, air, telekomunikasi dan wifi. Tersedia fasilitas pelayanan kesehatan pariwisata. Adanya pusat kegiatan bisnis yang mengutamakan produk dan hasil industry lokal. Pengelolaan sampah dan limbah yang tepat sebagai daerah tujuan wisata internasional.
Misi NEWA dan Artificial
Badung berbenah dalam mewujudkan pariwisata berkualitas dan bermartabat melalui penterjemahan misi ke-3, dalam program mengembangkan dan membina sentra- sentra industri kreatif dan membangun daya tarik wisata artificial.
Misi ke-4 dengan program mengintegrasikan penataan subak sebagai objek kunjungan desa wisata dengan konsep NEWA (Nature, Ecotourism, Wellness, Adventure). Terjemahan misi ke-7 adalah menyusun strategi dan substansi promosi bersama komponen pariwisata, meningkatkan kualitas aksesibilitas menuju objek pariwisata, meningkatkan system pengamanan wilayah bersama apparat keamanan untuk memberi rasa aman bagi masyarakat dan wisatawan. Dan meningkatkan kualitas objek pariwisata.
Inklusivitas Pariwisata Bali
Jika Ketua BPD PHRI Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, menyoroti parameter pariwisata berkualitas meliputi aksesibilitas mudah, informasi transparan dilengkapi digitalisasi disertai dengan fasilitas lengkap, nyaman serta layanan berkesan ramah hingga meninggalkan kenangan positif, sehingga timbul keinginan kembali loyalitas terhadap destinasi wisata. Juga perlu diperhatikan faktor-faktor dasar yang tersirat, seperti keselamatan, keamanan, kenyamanan, kebersihan, komunikasi dan fasilitas layanan publik.
Dari perspektif berbeda, akademisi dan pengamat kebijakan publik Prof. Dr. I Nengah Dasi Astawa, M.Si., melihat bukan wisatawan berkantong “tebal” menjadikan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan.
“Wisatawan kaya raya hanya tinggal di hotel berbintang tinggi, tapi berperilaku tidak sejalan dengan peradaban Bali. Hal itu tidak menjamin pariwisata memberi manfaat kepada masyarakat lokal, karena pemilik hotel besar hampir semua milik bukan pengusaha lokal, itu dominan chain hotel,” ujarnya.
Bali, tegasnya lebih lanjut selayaknya bertumbuh menjadi industry kepariwisataan inklusif. Secara organik pariwisata Bali telah tumbuh dan berkembang berbasis kerakyatan berdasarkan panduan nilai budaya Bali bernafaskan Hindu. Dan bertahan selama rakyat Bali masih menjadi pewaris dan pemilik Pulau Bali.
Pariwisata inklusif menjadi fundamental ekonomi kerakyatan, rakyat turut berperan (objek dan subyek) serta terlibat secara langsung mau pun tidak langsung pada sektor pariwisata. Terlebih secara hukum menyebutkan Bali adalah pariwisata budaya.
Di Bali, lanjut Dasi Astawa, eksistensi budaya, tradisi dan upacara maupun upakara menjadi pemicu, pendorong pariwisata berkelanjutan secara natural dan sejalan dengan totalitas dinamika rakyat Bali. Bagi rakyat Bali beraktivitas budaya, melaksanakan tradisi dan upacara dengan upakara nya tiada henti sebagai bagian dari melaksanakan karma berbasis dharma dengan tulus ikhlas tanpa merasa beban, berdasar ngayah lan lascarya.
“Ngayah lan lascarya merupakan embrio dari Bali selalu aman dan nyaman untuk dikunjungi oleh wisatawan domestik mau pun mancanegara dan itu akibat ekologi Bali secara sekala dan niskala damai dan harmonis,” ungkapnya.
Kemudian, apakah kepariwisataan di Bali saat ini benar pariwisata inklusif berkualitas, sesuai kaidah kepariwisataan itu sendiri? *BTNewspaper
