Pasar Cina: “New Momentum, New Journey in the year of Fire Horse”
Menggadang- gadang pasar Cina? Sah-sah saja dilakukan pelaku travel and hospitality dunia, termasuk operator di Bali. Menurut studi bersama EternityX dan MoonFox, pasar outbound negeri Tiongkok diproyeksikan melebihi 225 juta perjalanan pada tahun 2026, melampaui tingkat pra-pandemi. Lebih dari 90% pelancong kaya dari Tiongkok sudah merencanakan perjalanan ke luar negeri, rata-rata menghabiskan lebih dari 16 hari untuk perjalanan jarak jauh, dengan anggaran per kapita melebihi RMB100.000 (US$14.500). Tren ini mencerminkan pertumbuhan dua digit dalam permohonan visa untuk perjalanan ke luar negeri pada tahun 2025.
MANGUPURA, BTNp: PERUBAHAN signifikan berlanjut disemua segmen pasar wisata dunia. Di pasar pasar Tiongkok, pertumbuhan, penyesuaian, hingga transformasi menjadi bagian dari perjalanan bisnis yang harus dihadapi anggota. Setiap fase pasar menuntut keberanian untuk melihat realitas dengan jernih, sekaligus visi untuk menciptakan arah baru.
Di Tahun Kuda Api —melambangkan energi, keberanian, dan pergerakan maju– saat tepat untuk menyelaraskan strategi menghadapi dinamika pasar lebih adaptif di tahun 2026. Dengan harapan, kunjungan wisatawan Cina memberi manfaat positip baik bagi destinasi, bisnis anggota dan juga wisatawannya.
Demikian disampaikan Ketua Komite Pasar Cina DPD ASITA Bali, Eri Tjendana pada malam silaturahmi (Jumat, 6/3) ASITA Bali di Wanaku Seafood Restourant, Kuta. Silahturahmi serangkaian perayaan Tahun Baru Cina, diisi dialog bertajuk Kompetensi dan Kompetisi Pasar Cina. Dialog berlandaskan semangat “New Momentum, New Journey in the year of Fire Horse”.
Pada kesempatan tersebut Ketua DPD ASITA Bali I Pt Winastra, S.AB, M.A.P menegaskan pentingnya kolaborasi dan komitmen anggota ASITA menyikapi perubahan dinamika pasar wisata. Menurut Putu Winastra, perubahan ekosistem membawa konsekuesni hukum dan menyadari di Bali “masih banyak aturan hukum yang abu-abu”, akibat overlapping, irisan kepentingan masing- masing departemen. Asosiasi mengupayakan peningkatan “kualitas hubungan” hierarki dengan pemerintah pemegang kebijakan. Bersama stake holder kepariwisataan terkait telah mengupayakan penyesuaian tatakelola bisnis perjalanan dan hospitality di Bali. Tanpa dukungan anggota, upaya yang dilakukukan asosiasi tidak akan mencapai tujuan. Sikap anggota, menentukan kualitas usaha, kualitas pasar yang dilayani dan menjadi tolok ukur kualitas destinasi yang ditawarkan. Ditengah lajunya perkembangan tehnologi travel dan hospitality, alat bantu tersebut tetap memerlukan “kendali” SDM dengan kemanusiannya, tegas Putu Winastra.
Sebagai asosiasi, ASITA menyiapkan strategi peningkatan kualitas SDM bagi anggota dengan harapan anggota memanfaatkan peluang up-skill tersebut. Dalam bisnis jasa kepariwisataan kecanggihan teknologi tidak sepenuhnya dapat menggantikan “sentuhan manusia”, terlebih usaha jasa wisata yang menawarkan wisata budaya berlandaskan kearifan lokal sebagai bargaining power.
Baru 20-30 Persen
Malam silaturahmi yang diisi acara dialog memaparkan bahwa kunjungan wisatawan RRT –Cina daratan maupun Taiwan— menunjukkan pertumbuhan positip.

Namun yang mampu dikelalola anggota ASITA Bali berkisar 30 persen untuk pasar Cina dan 20 persen pasar Taiwan. Komite Pasar Cina melihat dinamika tersebut sebagai bukti ketidak-mapanan tata kelola ekosistem kepariwisataan di Bali, khususnya pasar Cina. Banyak factor penyebab, namun sebagai asosiasi Komite Pasar Cina tidak harus hanyut dalam kekacauan situasi. Komite mengajak anggota lebih jernih melihat peluang, kendala dan mencari strategi jalan keluar untuk tetap menjaga kualitas kepariwisataan Bali dan nasional.

Dalam analisis, Komite Cina memaparkan perubahan yang terjadi di lapangan. Jika era lima- 10 tahun lalu pasar Cina-Taiwan identic dengan mass tourist. Pasca pandemic dan ke depan menjadi kelompok ekslusif, FIT, dengan sejumlah permintaan produk diluar produk tradisional.
Khusus untuk penyiapan SDM guide berbahasa Mandarin, Ketua DPD HPI Bali, Nyoman Nuarta pada kesempatan tersebut meminta anggota ASITA ikut serta mengupayakan regenerasi maupun “mencetak” SDM lokal menjadi guide berbahasa Mandarin.
“Bagian dari tanggungjawab perusahaan juga untuk up-skilling karyawan,” paparnya.
Dan jika anggota ASITA mendukung strategi Bali “mendatangkan” wisatawan berkualitas, sebagai perusahaan legal dengan segala “kewajiban” nya kepada negara, selayaknya membenahi terlebih dahulu kualitas perusahannya. Perusahaan berkualitas dengan SDM berkompetensi akan menghasilkan produk jasa berkualitas. Selayaknya pula menyasar pasar berkualitas, imbuh Putu Winastra.

Dalam dinamika pasar Cina, Komite Pasar Cina tetap optimis anggota ASITA mampu menghandel pasar ini dengan baik. Dengan catatan beradaptasi, kreatif, berkolaborasi dan komitmen bersama- sama mengatasi kendala di lapangan.
Transformasi struktural
Hal perubahan prilaku pasar Cina. Hasil survey GlobalData, mengatakan bahwa pemulihan perjalanan di negeri Panda mencerminkan perubahan struktural yang lebih dalam dalam perilaku wisatawan. Kebangkitan perjalanan Tiongkok bukan hanya tentang pemulihan, tetapi juga tentang evolusi struktural. Pasarnya lebih besar, lebih berorientasi pada pengalaman, dan lebih sadar nilai daripada sebelumnya. Laporan tersebut menunjukkan bahwa ekspektasi wisatawan berkembang memengaruhi bagaimana destinasi merancang pengalaman wisata dan strategi pemasaran untuk pengunjung Tiongkok.
Laporan tersebut juga menyoroti peran generasi muda Cina dalam membentuk masa depan pasar sumber perjalanan Tiongkok. Wisatawan berusia 15–24 tahun mewakili segmen yang paling aktif, menghasilkan volume perjalanan domestik dan internasional tertinggi. Kelompok ini sangat termotivasi oleh pengalaman mendalam selama perjalanan dan perjalanan berorientasi pada gaya hidup. Tren ini menunjukkan permintaan jangka panjang berkelanjutan dari konsumen muda yang mencari pengalaman budaya, hiburan, dan destinasi di media sosial.
GlobalData mencatat bahwa destinasi dan penyedia pariwisata, memiliki peluang untuk meningkatkan pendapatan pariwisata dengan menargetkan segmen perjalanan premium di pasar Tiongkok. Dengan produk layanan bandara VIP, pemandu/guide pribadi dan rencana perjalanan –tailor made–yang disesuaikan, kemitraan hotel mewah, pengalaman bersantap di restoran berbintang Michelin. Akses budaya eksklusif seperti pratinjau museum atau acara di belakang panggung, pengalaman kebun anggur dan kuliner pribadi menjadi obsesi pasar RRT. Penawaran ini selaras dengan meningkatnya permintaan di pasar sumber perjalanan Tiongkok untuk pengalaman perjalanan yang dipersonalisasi dan bernilai tinggi.
Kesiapan Digital adalah Kunci
Menurut Global Data, penyedia layanan perjalanan harus menyesuaikan produk dan layanan untuk memenuhi harapan kalangan wisatawan Tiongkok. Penyedia layanan dapat membedakan diri dengan desain produk tersegmentasi dan disesuaikan untuk keluarga, pasangan, lansia, dan Generasi Z, bersama dengan paket dinamis dan fleksibel. Dukungan melalui konten berbahasa Mandarin, layanan pelanggan berbasis pesan 24/7, panduan jelas tentang kebutuhan praktis, dan proses pemesanan lancar sangat penting. Penerimaan pembayaran digital berbahasa Mandarin, integrasi lebih erat dengan platform pembayaran global utama, dan perdagangan sosial dapat secara signifikan meningkatkan kinerja dan mendorong kunjungan berulang —pasar repeater guest–.

Bagi destinasi global dan operator perjalanan, memahami nuansa wisatawan Tiongkok pada tahun 2026 sangat penting.
Dengan spirit “New Momentum, New Journey in the year of Fire Horse”, anggota ASITA Bali khususnya anggota Komite Pasar Cina, mampu berkontribusi lebih baik untuk pariwisata Bali dan Indonesia, tegas Ketua Komite Pasar Cina DPS ASITA Bali, Eri Tjendana, menutup acara silaturahmi dan dialog bertajuk Kompetensi dan Kompetisi Pasar Cina. * BTNewspaper
