“Operasi Epic Fury”, Memutus Jembatan Udara Eropa – Asia
DENPASAR, BTNp: OPERATION Epic Fury —eskalasi militer, 28 Februari 2026, koordinasi Amerika Serikat dan Israel— terhadap Iran, melumpuhkan koridor penerbangan paling vital di dunia. Serangan tersebut memicu penutupan sistematis wilayah udara di atas Iran, Irak, dan Kuwait, secara efektif memutuskan “jembatan udara” yang menghubungkan Eropa dan Timur Tengah ke kawasan Asia.
Wilayah udara Iran, Irak, Israel, Yordania, Qatar, dan Kuwait tertutup. Pusat penerbangan jarak jauh utama di zona konflik aktif, seperti Abu Dhabi, Dubai, dan Doha – penghubung utama antara Eropa dan Asia – terkena dampak langsung serangan, meningkatkan tekanan operasional. Penerbangan antarbenua dari Asia ke Eropa menghadapi krisis kapasitas dihari keempat berturut-turut.
Ketersediaan kursi di rute-rute utama telah anjlok, harga tiket telah melonjak berkali-kali lipat dari harga normal, dan maskapai penerbangan terpaksa mengubah rute melalui koridor lebih panjang dan lebih mahal. Penumpang merasakan dampaknya secara langsung, sementara maskapai penerbangan Asia menghadapi realitas lebih kompleks: lonjakan permintaan di satu sisi, dan meningkatnya biaya operasional di sisi lain.
Dikutip dari laporan Reuters, Flight Centre Australia mengalami lonjakan panggilan sebesar 75% ke toko dan saluran daruratnya. Direktur Pelaksana Global Flight Centre, Andrew Stark, mengatakan bahwa pelanggannya sudah beradaptasi, memesan ulang melalui Singapura, Tiongkok, dan pusat penerbangan Amerika Utara seperti Houston.
Mahal dan Kurangi Kapasitas Kargo
Dengan rute Teluk yang praktis tidak tersedia, maskapai penerbangan termasuk Cathay Pacific, Singapore Airlines, dan Thai Airways mengalami lonjakan permintaan. Analis Alton Aviation mengidentifikasi Singapore Airlines dan Cathay Pacific potensial menerima manfaat jangka pendek, mengingat jaringan penerbangan nonstop mereka yang sudah mapan antara Asia dan Eropa.
Sementara itu, Thai Airways melaporkan penerbangan ke Eropa sudah penuh dipesan, para pelancong berusaha menghindari transit di Timur Tengah, menurut Menteri Transportasi Thailand. Data menunjukkan gambaran jelas, rute Hong Kong ke London milik Cathay Pacific tidak menunjukkan ketersediaan kursi kelas ekonomi hingga 11 Maret 2026, dengan harga tiket paling awal sekitar $2.705 sekali jalan, dibandingkan dengan tarif umum sekitar $648 di akhir bulan. Qantas tidak memiliki ketersediaan kelas ekonomi pada layanan Sydney ke London hingga 17 Maret 2026, dengan harga sekitar $2.220.
Menurut aerotime.aero, maskapai penerbangan yang dapat beroperasi ke dan dari Timur Tengah terpaksa mengubah rute, terbang ke utara melalui Kaukasus dan Afghanistan, atau ke selatan melalui Mesir, Arab Saudi, dan Oman. Pengalihan rute ini menambah waktu penerbangan antara 15 hingga 60 menit, membakar lebih banyak bahan bakar dan meningkatkan biaya operasional.
Subhas Menon, Ketua Asosiasi Maskapai Penerbangan Asia Pasifik, mengatakan kepada Reuters bahwa situasi ini membawa dampak nyata.
“Saat ini seluruh Timur Tengah tidak dapat diakses, yang merupakan harga yang mahal bagi beberapa maskapai penerbangan. Jika Eropa hanya dapat dilayani dengan biaya tinggi, profitabilitas maskapai penerbangan akan terganggu. Pada akhirnya, harga yang harus dibayar adalah konektivitas ,” katanya.
Konsultan industri memperkirakan bahwa total biaya operasional per penerbangan jarak jauh dapat meningkat antara tiga dan delapan persen tergantung pada rute dan harga bahan bakar. Beberapa maskapai penerbangan mungkin juga perlu mengurangi muatan kargo untuk membawa bahan bakar tambahan yang dibutuhkan untuk rute lebih panjang. Eskalasi berkelanjutan di Teluk dapat mendorong biaya energi lebih tinggi secara keseluruhan, pada akhirnya berdampak pada penumpang di hampir setiap rute
Kelumpuhan Pusat Transit
Menurut perusahaan analitik penerbangan, Cirium, eskalasi militer — Operation Epic Fury—, koordinasi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, mengakibatkan sekitar 22,9% (966) dari 4.200 penerbangan terjadwal 28 Februari dibatalkan, sekitar 716 penerbangan dibatalkan untuk tanggal 1 Maret.
Dalam unggahan 2 Maret Facebook resmi General Civil Aviation Authority (Otoritas Penerbangan Sipil/GCAA) Uni Emirat Arab mengumumkan bahwa mereka “meningkatkan upaya” untuk menyesuaikan jadwal dan memastikan keberlangsungan operasional bagi penumpang. GCAA mengatakan bahwa 20.000 penumpang terdampak penjadwalan ulang penerbangan telah menerima dukungan berupa akomodasi sementara dan untuk memesan ulang perjalanan mereka.
Selain itu, otoritas Abu Dhabi telah menginstruksikan hotel untuk memperpanjang masa inap bagi tamu terlantar akibat gangguan perjalanan, dan menanggung semua biaya yang dikeluarkan.
Serangan pada 28 Februari telah menyebabkan penghentian total lalu lintas di beberapa pusat transit tersibuk di dunia. Qatar Airways termasuk yang pertama bereaksi, menangguhkan semua operasi ke dan dari Doha. Secara bersamaan, Emirates dan Etihad menghadapi gangguan besar, dengan penerbangan jarak jauh dari AS dan Eropa dialihkan ke kota-kota alternatif di Eropa atau dihentikan di tengah perjalanan.
Operasi Qatar Airways tetap ditangguhkan hingga pembukaan kembali wilayah udara Qatar dan Emirates memperingatkan adanya gangguan hingga 5 Maret, sementara Cathay Pacific telah membatalkan semua penerbangan ke Timur Tengah tanpa batas waktu, begitu pula Japan Airlines untuk rute Tokyo-Doha.
British Airways menghentikan layanannya ke Tel Aviv dan Bahrain hingga 4 Maret, Malaysia Airlines telah menangguhkan semua penerbangan ke dan dari Doha, Jeddah, dan Madinah hingga 4 Maret, sementara Singapore Airlines telah membatalkan semua penerbangan ke Dubai hingga 7 Maret. Beberapa maskapai penerbangan seperti Cathay Pacific dan Singapore Airlines juga menyarankan para pelancong untuk meminta pengembalian dana untuk tiket tidak terpakai, tanpa biaya penalti seperti biasanya.
Situs pelacakan penerbangan FlightAware melaporkan lebih dari 6.000 penerbangan tertunda, hampir 1.800 penerbangan dibatalkan pada 2 Maret, pukul 16.00 SGT.
Analis penerbangan mencatat bahwa hilangnya hub-hub ini memutus koneksi satu atap utama bagi para pelancong menuju Asia Tenggara. Dengan tertutupnya ruang udara Iran dan Irak , maskapai penerbangan terpaksa menggunakan koridor padat di atas Arab Saudi atau rute utara yang lebih mahal melalui Tiongkok. Ketidakefisienan operasional tersebut, diproyeksikan meningkatkan metrik “biaya per kursi”. Secara langsung mengancam volume kedatangan wisatawan di Asia Tenggara pada tahun 2026.*BTNewspaper
