“Bali” Termasuk Daerah yang Patuh Kebijakan Pusat

BTNp, Denpasar: KETUA Yayasan Dharma Widya Ulangun — pengelola IPB Internasional Bali—I Nyoman Gede Astina dalam webinar World Tourism Day Series bertema Reopening the Border Reviewing Bali Hospitality Industry in the Gate Opening, menegaskan bahwa Bali termasuk daerah yang patuh mengikuti setiap kebijakan pusat berkaitan dengan pengendalian pandemi COVID-19.
Berharap webinar menghasilkan pandangan dan rumusan kebijakan baru untuk kebangkitan sektor pariwisata. Pasalnya pandemi telah memporak- porandakan tidak hanya kepariwisataan di Bali, tetapi berdampak pada ekosistem sosial ekonomi masyarakat, jelasnya.
Bali webinar menghadirkan pembicara Kadis Pariwisata Bali I Putu Astawa, Ketua PATA Bali- Nusa Tenggara Chapter Ida Bagus Gede Sidarta Putra, Ketua IHGMA Yoga Iswara dan Rektor IPB Internasional Bali I Gst Made Sudjana dengan key note speaker Wakil Gubernur Bali Prof. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace).
Menurut Cok Ace, masyarakat di berbagai belahan dunia termasuk Bali tengah berjuang untuk pulih dari pandemi COVID-19. Terkait dengan pengendalian pandemi, disampaikan bahwa Pemprov Bali bersama Kabupaten/Kota dan didukung seluruh stakeholder telah melaksanakan sejumlah kebijakan dan program upaya pemulihan situasi dan kondisi di Bali. Mempersiapkan sector- sector terkait jika “border” dibuka.
Salah satu upaya adalah akselerasi pelaksanaan vaksinasi untuk memenuhi standar World Health Organization (WHO).
“Pencapaian vaksinasi tahap 1, jauh melampaui target WHO dan kita juga tertinggi di tingkat nasional. Yang sudah mendapat vaksinasi tahap ke-2 juga cukup banyak yaitu 763.880 atau 26,50 persen. Menyesuaikan aturan rentang waktu, saat ini kita terus kejar realisasi vaksinasi tahap 2,” jelasnya.
Selain mengejar target vaksinasi untuk mencapai herd community, Pemprov Bali juga mempersiapkan penerapan tatanan kehidupan era baru di sektor pariwisata melalui program sertifikasi CHSE. Sampai Juli 2021 sebanyak 1.871 usaha pariwisata telah mengantongi sertifikat CHSE.
“Tahun ini ada jatah lagi untuk Bali sebanyak 1.200 sertifikat. 200 untuk hotel dan 1.000 untuk usaha non hotel. Saya berharap, pelaku usaha di bidang pariwisata memanfaatkan kesempatan ini, ” imbuhnya.
Langkah lain, pemerintah juga telah menyusun SOP penerimaan wisatawan manca negara mulai dari bandara, hotel, objek wisata yang dikunjungi hingga balik ke negara asal mereka. Lebih dari itu, screening ketat juga diberlakukan pada pintu masuk Bali seperti bandara dan pelabuhan.
Tiga “T” ala Kepariwisataan
Jika dunia kesehatan menerapkan 3 T – Testing, Tracing and Treatment – dalam penanganan pandemi, di sisi kepariwisataan ada 3 T yang diterapkan yaitu membangun “ trust”, uji coba (trial). Sukses dan aman perjalanan (travel) wisata ke Bali dapat dilakukan.
Kepercayaan (trust) menurut KadisPar Bali, Putu Astawa ditimbulkan dari penurunan kasus positif. Dan semua orang “harus” berkontribusi dengan melaksanakan semua standar, kriteria, SOP yang telah disepakati dunia, tegas Putu Astawa.
Jika kepercayaan pasar telah tumbuh, uji coba kunjungan dapat dilakukan melalui pembukaaan kawasan secara bertahap, terbatas, sembari melakukan evaluasi dan penyempurnaan system. Persiapan pra kondisi diperlukan untuk dibukanya pintu masuk Bali dengan memenuhi kriteria dan standar yang telah ditetapkan negara.
Senada dengan KadisPar Bali, Ketua IHGMA, Yoga Iswara menegaskan bahwa kunci “open border” ada di tangan masyarakat Bali, dengan memenuhi kriteria sehat dan aman. Pasalnya mencapai kondisi sehat dan aman dalam pandemi adalah “tanggungjawab semua orang”.
Masa pandemic yang sudah mendekati dua tahun ini menurut Ketua PATA Bali-Nusa Tenggara Chapter, IB Gde Sidartha Putra (Gusde) memposisikan ekosistem kehidupan mahluk hidup saat ini pada titik “VUCA’’ tingkat tingi. Khususnya dalam kepariwisataan tingkat volatility menumbuhkan pergeseran, perubahan yang sangat cepat tidak terprediksi. Sehingga apapun keputusan, kebijakan memiliki ketidakpastian pelaksanaan (uncertainty), persoalan pun complexity nya meningkat.
“Kita dihadapkan pada situasi “ambigu”, kunci mengatasinya ya beradaptasi baik secara pribadi lepas pribadi, perusahaan mau pun lembaga,” paparnya.
Industri di Bali, jelas Gusde yang juga Ketua BPPD Denpasar, Chairman BPD PHRI Denpasar dan Ketua Yayasan Pembangunan Sanur, selalu siap menghadapi pembukaan “border” bagi wisatawan asing ke Bali.*BTNewspaper
