Ibudaya Festival : Ajakan Pulang ke Asal untuk “Menanam”
Buleleng, BTNp: ESOK sore Minggu, 24 Oktober 2021 pukul 16.30 Wita gelar Ibudaya Festival 2021 berlangsung dilayar IG : @ibudayafestival dan Youtube : Ibudaya Festival. Mengusung tema Mula ka Mula, —Mula dalam bahasa Bali berarti menanam, dalam Bahasa Indonesia artinya awal, sementara ka Mula dapat dimaknai ke asal –ke akar. Secara garis besar Mula ka Mula adalah ajakan untuk pulang ke asal untuk menanam – Bali Utara, Buleleng–.
Jika ditelisik, kata Ibudaya, terdiri dari 3 (tiga) rangkai kata terjalin erat di dalamnya, yaitu “ibu” –perempuan, “daya” –kemampuan, dan “budaya” –kerja laku turun menurun yang diwariskan, kaitannya terhadap kearifan lokal. Jadi Ibudaya dapat dimaknai sebagai kemampuan ibu-perempuan untuk memelihara, merawat, menjaga nilai-nilai yang terkandung dalam laku kebudayaan.
Dikaitkan dengan konteks pandemi yang sudah berjalan hampir 2 (dua) tahun ini, tegas Ayu Laksmi, penggagas Ibudaya Festival 2021, manusia dihadapkan dengan berbagai pilihan. Terutama mereka yang dulu meninggalkan rumah untuk mencari penghidupan di luar sana. Secara sadar dituntut pulang. Berhenti sejenak, merenung, menghayati, kemudian memulai kembali.
Dalam kepulangannya itu, mereka akan berkeluh kesah kepada ibu. Ibu yang memiliki rahim dalam tubuhnya merupakan asal kebermulaan kita semua. Seorang ibu secara naluriah menampung keluh siapa pun yang “pulang”, padanya ada solusi, ada dimensi “kewarasan” berlaku, bertindak secara sederhana.
“Ibudaya memaparkan bahwa dari ibu kita merawat Bali, dari Buleleng kita merawat negeri,” jelas Ayu Laksmi,
Buleleng, menurut penggiat budaya Cok Sawitri, memiliki sejarah panjang yang perlu dicermati untuk membaca Bali secara holistik. Satu diantara nama besar itu, Pelabuhan Buleleng. Pada masa kependudukan Belanda, pelabuhan tersebut menjadi pintu masuk utama jika ingin datang ke Bali. Keberadaannya yang strategis, memberi peluang kepada orang luar untuk melakukan aktivitas perdagangan, mulai dari bangsa Eropa, China, Belanda, Arab, Bugis dan lain sebagainya.
Hiruk pikuk Pelabuhan Buleleng memiliki peran penting terhadap akulturasi kebudayaan di Buleleng terkait cara berpikir, bahasa tutur, kuliner, serta sistem sosio kulturalnya. Hingga pada periode 1950-1985 Buleleng menjadi ibu kota provinsi Sunda Kecil. Sunda Kecil meliputi Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Timor (barat) dan Sumba serta pulau-pulau kecil di sekitarnya.
Masa keemasannya mulai meredup saat Sunda Kecil dimekarkan menjadi tiga Provinsi – Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, serta Ibu Kota Provinsi Bali dipindahkan, dari Singaraja ke Denpasar tahun 1960. Maka segala hiruk pikuk yang terjadi secara tidak langsung berpindah ke Bali Selatan. Hal ini juga membawa dampak signifikan terhadap pembangunan. kehidupan sosial dan kehidupan ekonomi masyarakat Buleleng terasa bergerak lamban. Buleleng seolah ditinggalkan, waktu berhenti begitu saja di sana.
Mengacu pada pemahaman di atas, dengan penuh pertimbangan Ibudaya Festival menjadikan pusat semua kegiatannya di Bali Utara. Penyusuran kembali ruang-ruang bersejarah, utamanya yang memancarkan energi spiritual. Lebih jauh ziarah tersebut memberi tawaran alternatif sebagai rujukan destinasi wisata spiritual di Buleleng. Beberapa tempatnya adalah rumah tua peninggalan Belanda, Bukit Ser, Brahmavihara Arama, Pelabuhan Buleleng, Pura Pulaki, Retreat Universal, Goa Maria Air Sanih, Pura Ponjok Batu, Pura Beji Sangsit, Pura Meduwe Karang dan Pura Gambur Anglayang.
Menurut Ayu Laksmi, konseptor dan Direktur Ibudaya Festival, kegiatan ini menjadi cermin kasih seorang ibu dalam menjaga tradisi yang luhur, termasuk tempat atau destinasi yang memiliki nilai sejarah di Buleleng. Gerakan ini masih kecil namun harus digaungkan secara perlahan agar semua orang tahu, bahwa Buleleng memiliki sejarah menarik yang semestinya menjadi rujukan penting untuk membangun Bali.
Selebrasi dan Gelar Wicara
Kegiatan Ibudaya Festival berupa Selebrasi Budaya dan Gelar Wicara dilaksanakan secara virtual berpusat di Rumah Tua Peninggalan Belanda Buleleng. Kedua mata acara tersebut sepenuhnya melibatkan perempuan-perempuan yang mendedikasikan hidupnya pada disiplin ilmu masing-masing.
Selebrasi Ibudaya disajikan dalam bentuk video art –pertunjukan dengan narasi, bahasa gambar yang puitik tanpa terlepas dari penggalian nilai-nilai budaya dalam semangat spiritual seorang perempuan. Selebrasi Ibudaya menampilkan pertunjukan tradisi dan kontemporer berupa musik, sastra, tari dan teater.
Para seniman penyaji antara lain Ni Luh Menek, Cok Sawitri, Ida Ayu Wayan Arya Setyani, Aryani Willems, Nyoman Tini Wahyuni, Heny Janawati, Echa Laksmi, Ida Ayu Nyoman Dyana Pani, Jasmine Okubo, Pranita Dewi, Alien Child, I Gusti Ayu Kusumayuni, Sanggar Seni Palwaswari, Ni Nyoman Srayamurtikanti, Komunitas Mahima, Ipung Dancer, serta Womb Ibudaya beranggotakan Aik Krisnayanti, Sagung Novi, Claudia, Ida Ayu Wisanti, Ni Ketut Fenty, Jesica Winanda Leksono Putri, Kharissa Sadha, Maria Murwiki, Monique Anastasia Tindage.
Penyaji Selebrasi Budaya Jasmine Okubo koreografer asal Jepang yang telah lama berkarya di Bali, mementaskan satu repertoar tari di Bukit Ser Buleleng berjudul Arecaceae. Karya tersebut mengangkat filosofi pohon kelapa yang erat hubungannya dengan kegiatan budaya orang Bali.
“Bagiku pohon kelapa itu kehidupan, sangat pas aku bawakan di Bukit Ser karena dulunya itu situs pemukiman,” ujar Jasmine Okubo saat tim Ibudaya Festival melaksanakan perekaman visual.
Baginya Bukit Ser yang gersang, tandus dan panas menyimpan berbagai kisah kehidupan. Bukit Ser merupakan pelabuhan yang cukup strategis dikawasan ujung barat Buleleng. Banyak pedagang dari luar Bali datang untuk menjajakan barangnya, lambat laun terciptalah suatu akulturasi kebudayaan diimbangi dengan tumbuhnya pemukiman di sekitar area pelabuhan. Namun hal itu telah sirna, hanya dapat dilacak melalui temuan-temuan arkeologi yang tersebar di beberapa situs.
Dalam konsep dasar itu, Jasmine mencoba merangkai kehidupan di Bukit Ser, mengumpulkan berbagai energi ruang, menziarahi setiap jejaknya, meresapi pesan-pesan yang berhembus oleh angin. Terciptalah satu peristiwa pertunjukan tari yang syahdu diantara celah pohon-pohon tua yang tumbuh di Bukit Ser.
Sementara Gelar Wicara, berupa diskusi kontemplatif oleh spiritualis perempuan, pakar ilmu medis, psikolog, pelaku pariwisata dan inisiator perempuan di berbagai bidang. Diskusi ini diharapkan merangsang kerja kolektif dan menumbuhkan keinginan untuk bergerak dalam satu semangat bersama.
Narasumber Gelar Wicara adalah Sandrina Malakiano, Ayu Weda, dr. I Gusti Ayu Nyoman Partiwi, SPA., MARS, dr. Luh Karunia Wahyuni, SP.KFR-K, Ni Luh Putu Ary Pertami Djelantik, Ana Anandi dan Luh Manis.
Mari bergabung di IG : @ibudayafestival, atau di Youtube : Ibudaya Festival. *BTNewspaper
