Menjaga Air Tanah: Memanen Air Hujan, Menanam Pohon

Menjaga Air Tanah: Memanen Air Hujan, Menanam Pohon

Share it

MUNDUK, Buleleng, BTNp: BALI dalam beberapa tahun terakhir menghadapi tantangan serius terkait krisis air. Dalam Kajian Lingkungan Hidup Strategis / Strategic Environmental Assessment (SEA) tahun 2014 menunjukkan setiap zona potensi air di Bali mengalami kekeringan pada musim kemarau, kelebihan air di musim hujan. Kelebihan air yang belum dimanfaatkan secara optimal sebagai cadangan air pada musim kemarau.

Perubahan iklim memperparah kondisi tersebut, tingkat air tanah menurun, eksploitasi sumber daya air, dan kurangnya kesadaran akan keberlanjutan lingkungan, menciptakan ketidakseimbangan yang mengancam ketersediaan air tanah di pulau ini.

Hasil survey yang diselenggarakan Politeknik Negeri Bali di tahun 2018 menunjukkan krisi air bersih di Bali makin mengkhawatirkan. Seluruh kabupaten yang disurvei tidak ada satupun kualitas airnya memenuhi baku mutu sesuai Keputusan Menteri Kesehatan. Dan perlu dipahami 35 persen air dari sumber air di Bali diperuntukkan bagi masyarakat, 65 persen untuk kebutuhan industri pariwisata.

Sebagai respons terhadap krisis air –bagian pencapaian SDG’s–, IDEP Foundation/ Yayasan IDEP Selaras Alam di tahun 2022 memperkenalkan program Bali Water Protection (BWP). Program berbasis penelitian untuk menciptakan pengelolaan air berkelanjutan dan menghentikan kekeringan, kelangkaan air di pulau Bali. Memperkuat model manajemen sumber daya air di Provinsi Bali, dengan fokus pada komunikasi risiko dan keterlibatan masyarakat. BWP menjadi langkah strategis meningkatkan ketahanan air dan membangun kesadaran masyarakat terhadap isu-isu kelangkaan air serta dampak perubahan iklim.

Keberlanjutan Air Tanah

Sumur Isi Ulang

BWP berupa program Adopsi Sumur (Adopt a Well), dengan pemasangan 136 sumur untuk menyalurkan pasokan air tawar berkualitas minum di 9 Kabupaten di Bali dan pulau kecil sekitarnya. Adopt a River (Adopsi Sungai) dengan memberikan pendidikan penatagunaan air di 300 sekolah dasar di 9 Kabupaten di Bali. Adopt a Water (Adopsi Air) dengan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya melindungi sumber daya air dan perubahan iklim.

Menjaga keberlanjutan program Bali Water Protection, di Hari Air se Dunia (22 Maret 2024), IDEP bekerjasama dengan Politeknik Negeri Bali dan Yayasan Save the Children, menyelenggarakan  sosialisasi Sumur Pemanenan Air Hujan (SUMBER) dan penanaman 2500 bibit tanaman konservasi antara lain bambu Petung, Tamblang, tiying Tali, Jake/aren, kopi di Desa Munduk..

Menurut  Putu Bawa, di Desa Munduk, ada dua (2) eksisting SUMBER yang membutuhkan langkah-langkah konservasi ekosistem air tanah. Kegiatan penanaman diharapkan mampu mendukung pelestarian dan peningkatan kapasitas ekosistem air tanah, mengurangi tekanan pada sumber daya air serta mendukung keberlanjutan lingkungan.

BWP, berharap kegiatan penanaman, menciptakan kesadaran dan partisipasi langsung dalam pelestarian air tanah. Pelatihan mengenai teknik penanaman yang berkelanjutan, perawatan tanaman, dan manfaat ekologisnya yang memberdayakan masyarakat setempat sebagai agen utama dalam menjaga ekosistem air tanah.  Pemilihan varietas tanaman sesuai dengan karakteristik lingkungan lokal dan penerapan teknik Agroforestri.

IDEP dan mitra berkolaborasi dengan Kelompok Tani (Poktan) lokal dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Munduk sebagai upaya memperkuat ketahanan masyarakat lokal, tercipta sinergi berkelanjutan antara pelestarian air tanah, pertanian berkelanjutan, dan kesejahteraan masyarakat. Program BWP memperkuat konservasi air tanah di Desa Munduk sebagai daerah imbuhan utama, papar Putu Bawa.

Sumur Isi Ulang

Saat ini tidak hanya air kemasan memiliki dimensi “isi ulang” dengan beragam alasan. Eksistensi dan keberlanjutan air tanah pun perlu peran serta tehnologi dan tangan manusia untuk mengisi ulang dan menjaga ketersediaannya. IDEP mengingatkan hal Kajian Lingkungan Hidup Strategis / Strategic Environmental Assessment (SEA) tahun 2014 dan survey dari Politeknik Negeri Bali tahun 2018.

Pada pelaksanaan BWP, IDEP dan mitra memposisikan Bali yang diberkati dengan curah hujan melimpah serta topografi ideal, mendukung penyaluran air hujan secara gravitasi ke tempat-tempat strategis untuk pengisian kembali akuifer-— akuifer (kantung air) adalah lapisan bawah tanah yang mengandung air dan mampu mengalirkan air—.

Sumur pemanenan air hujan (SUMBER) memberikan solusi berteknologi sederhana, hemat biaya terhadap ketersediaan air tawar yang meningkat pesat. Fungsi utama sumur resapan ini sebagai tempat menampung air hujan dan menyerapnya ke dalam tanah. Dalam sosialisasi SUMBER di Pura Puseh Desa Adat Munduk bertepatan dengan Hari Air se Dunia disampaikan bahwa fungsi sumur selain konservasi air tanah, meningkatkan ketersediaan air tanah, juga mengurangi banjir/genangan air, menghentikan intrusi air laut.

“Penelitian terbaru menunjukkan, satu (1) sumur resapan dapat menyerap 281,6 m3 air hujan per tahun. Satu sumur resapan akan mengkompensasi kebutuhan air 4 hingga 6 keluarga,” ungkap Putu Bawa. *BTNewspaper


Share it

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *