Pak Luhut Sudahlah, Bali Telah Terlihat Lelah….
GAGASAN menjadikan Bali sebagai kota pusat keuangan dunia, yang pernah disampaikan Mr. LBP beberapa tahun lalu, dan kini “dihidupkan” lagi, membuat saya tiba tiba teringat lagu Group Band Elpamas
Pak Tua sudahlah, engkau telah terlihat lelah oh yaaa.
Pak Luhut sudahlah, Bali telah terlihat lelah, —oh no hehehe
Dengan alasan ekonomi, menarik investasi asing sebesar besarnya untuk membantu pembangunan negara, dengan iming iming kemudahan dan fasilitas bahkan sampai pemberian tax haven, dari sudut pandang ekonomi sekali lagi, sah sah saja.
Tapi, pak Luhut, kenapa harus Bali?
Sebagai bagian NKRI, Bali yang sudah mengambil peran sebagai main gate pariwisata Indonesia, dengan segala dinamika dampak positif dan negatifnya, biarlah Bali melanjutkan peran itu.
Bali dengan beberapa pertimbangan —keamanan, kenyamanan, tingginya toleransi (baca : mudahnya orang Bali menerima kehadiran orang asing) mungkin saja tepat mengambil “peran” baru tersebut.
Namun dengan semangat pemerataan, kenapa bukan memilih “kota” (daerah, pulau—Red) yang lain?
Jika melihat faktor luasnya ruang yang belum terbangun, Pulau Bintan di Kepulauan Riau jauh lebih tepat dibanding Bali. Jika pertimbangan toleransi, Kota Singkawang di Kalimantan Barat “malah” lebih tepat, dimana tingginya toleransi berhubungan langsung dengan keamanan dan kenyamanan berinvestasi.
Bali dengan luas 5000an KM persegi sudah cukup sesak dan carrying capacity Bali juga sudah amat terbatas. Penetapan sebagai pusat keuangan dunia, kemungkinan besar disertai pembangunan gedung gedung baru, infrastruktur, plus makin banyaknya warga negara asing yang menetap di Bali —karena kemudahan kemudahan yang diberikan Pemerintah Pusat— sesuai dengan semangat menarik investasi.
Bali bagai “Warung Madura” —begitu banyak ada di pulau mungil ini— warungnya relatif kecil, menjual apa saja, lampu kerlap kerlip, bergerak di dalam warung hampir tidak mungkin karena sempit, haruskah ditambah lagi dengan jualan produk baru “pusat keuangan dunia” ?
Sudahlah Pak Luhut.
Kami tahu Bapak menyukai Bali, seperti menyukai Danau Toba yang begitu indah.
Oh ya, kenapa pusat keuangan dunia tidak dirancang di Pulau Samosir di Sumatera Utara sana?
Besarnya hampir mendekati Singapura, lokasi relatif strategis dijangkau dari hub-hub dunia seperti Singapore, Hongkong, Dubai, dan India.
Sudahlah Pak Luhut, sudahlah!
Bali sudah “teramat lelah “dengan segala problematikanya, dan pindahkanlah gagasan pusat keuangan dunia ke kota lain.
Kami tidak setuju, kami pasti menolak itu Pak Luhut.
Matur suksma,
Horasss,…
Jimbaran, 23 Oktober 2025
* Wisnu Arimbawa
