Tumpek Panguduh : Saniscara Kliwon Wariga
Dibagikan ulang Oleh: Gde Suarsa, Assesor THK Accreditation and Awards
PERTEMUAN Panca Wara, Sapta Wara dan Wuku, ketiganya memberikan energi tersendiri pada alam, sehingga hari ini mempunyai kedudukan sangat penting untuk keberlangsungan kehidupan. Hari ini banyak nama perayaan atas penghormatan kepada Sang Hyang Sangkara diantaranya disebut: Tumpek Panguduh, Tumpek Pangarah, Tumpek Pengatag, Tumpek Bubuh, Tumpek Wariga sesunggahnya itu adalah satu hanya sebutan yang berbeda.
Berdasar petunjuk Lontar Sundarigama disebutkan
Wariga, Saniscara Kliwon, ngaran tumpek panguduh, puja kreti ring Sang Hyang Sangkara, apan sira amredyaken sarwa tumuwuh, kayu-kayu kunang (Sang Hyang Sangkara sebagai penguasa tumbuh-tumbuhan).
Adapun upakara yang dihaturkan saat Tumpek Pangunduh berupa Pras, Tulung, Sesayut, Tumpeng, Bubuh, Tumpeng Agung, dengan daging babi atau itik yang dilengkapi raka-raka, penyeneng dan tetebus. Sedangkan upakara yang ditujukan kepada manusia yaitu sesayut cakra gni dan sesayut pengadang hati (Sundarigama,25) harapannya adalah untuk memohon anugrah sang Hyang Sangkara agar memberikan kesuburan kepada tumbuh-tumbuhan. Kemudian bertumbuh berbunga, berbuah, berdaun lebat, ber umbi sehinga dapat dijadikan sumber makanan untuk keberlangsungan kehidupan manusia.
“Tumpek Panguduh, anguduh ikang sarwa ning taru, sekar, awoh, agodong dadi amreta ning urip” disebut pula “metu ning mawah ya” (sehingga ia berbuah).
Tumpek Penguduh bagi diri umat manusia adalah menumbuhkan pikiran dan batin yang halus, indah “anuwuhaken jnanasandhi” dengan jalan pemberdayaan kekuataan cakra api di dalam diri untuk menghadang pengaruh pikiran dan perasaan hati yang buruk (maka pengadang ati) sehingga dapat tumbuh subur benih – benih pikiran yang dapat menyejukan jiwa dan isi dunia.
Puja Stawa kehadapan Sangkara
Om Giri deva ratna wiryam, syàma-rùpam mùrti bhvanam
Sangkara deva sa linggam, sarva deva pranamyakam.
Jaya Vijaya mùrtinam, suddha jñànam mretha jìvam
mretha-bhùmi pawitranam sarva pàpa winànanam.
Rudra rùpam mahà bhìmam, sarva durga praharanam
Jagat vighna pratisthanam, mretha jiwam nugrahakam.
Tri mandala pratisthanam, bhùta preta mandiraksam
Sarva jagat purnam jìwam, sarva wighna winasanam
Sangkara Dewa murtinam, wayawaye ca prasthistanam
Sarwa jagat prasthistanam, mretha bhumi nugrahakam
Bhuh loka mandhala purnam, Sangkara dewa nugranam
Dirghayu bhuana sapurnam, sarwa marana moksanam
(Stuti – Stawa 188 – 189)
Dengan menjaga tumbuhan sesungguhnya secara langsung telah memberikan penghormatan kepada pemilik sarwa tumuwuh “Sang Hyang Sangkara” sehingga dengan itu alam akan menjaga kita.
Apabila tumbuhan tidak mendapat perlakuan yang cukup sesuai kedudukannya, maka Ia akan mengembalikan hal yang sama pada pelakunya “tan hana karya tanpa phala”
Kita bisa belajar banyak dari pohon : mereka selalu membumi, tetapi tidak pernah berhenti meninggi menyujur langit, memberi keteduhan walau ia kepanasan, selalu memberi walau dia masih membutuhkan, dan setinggi apapun tumbuh kecendrungan daun’nya akan jatuh kemabali ke akarnya.
Mari jaga alam, jaga tumbuhan, maka ia juga akan menjaga kita
Rahayu,Rahayu,Rahayu
