30 Persen Pasar Wisata Global adalah Disabelitas

30 Persen Pasar Wisata Global adalah Disabelitas

Share it

MADRID, BTNp: ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) ditahun 2023, melansir data bahwa 1,3 miliar orang —sekitar 16% dari populasi global— mengalami disabilitas signifikan. Dan hampir 50% orang berusia di atas 60 tahun memiliki disabilitas (UNDESA, 2022). Mereka hampir 30 persen dari pasar utama pariwisata global yang berhak mendapat aksesibilitas berwisata.

Di Hari Internasional Penyandang Disabilitas, Pariwisata PBB (UN-Tourism) mengingatkan kembali bahwa aksesibilitas bagi semua orang terhadap fasilitas, produk, dan layanan pariwisata harus menjadi bagian utama dari setiap kebijakan pariwisata yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Aksesibilitas bukan hanya tentang hak asasi manusia. Ini merupakan peluang bisnis bagi destinasi dan perusahaan untuk merangkul semua pengunjung dan meningkatkan pendapatan mereka.

Dalam catatan Redaksi wisatawan penyandang disabilitas cenderung bepergian dengan ditemani 2 hingga 3 pendamping (Bowtell, 2015). Bowtell, juga mengingatkan bahwa 2/3 penyandang disabilitas di negara maju cenderung memiliki sarana untuk bepergian. Bagi bisnis pariwisata, kegagalan dalam menangani aksesibilitas dapat mengakibatkan keluhan, denda, atau pengecualian dari hibah publik.

Bertepatan dengan Hari Internasional Penyandang Disabilitas, UN-Tourism merilis Panduan Aksesibilitas untuk Bisnis Pariwisata. Panduan dengan lima langkah praktis yang dapat diikuti perusahaan perjalanan dan pariwisata, hasil kerjasama UN-Tourism dengan Kementerian Federal Jerman —untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ)— melalui Agency for Business and Economic Development (AWE). Dengan harapan dapat membantu bisnis sektor pariwisata untuk meningkatkan dampak dengan meningkatkan aksesibilitasnya.

Lima langkah tersebut meliputi peningkatan pendapatan dengan memperluas jangkauan berbasis “pelanggan” —yang 1,3 miliar orang hidup dengan disabilitas berat, kelompok lansia—, memperkuat reputasi merek, dan perencanaan hemat biaya untuk meningkatkan aksesibilitas. Dengan mengikuti langkah-langkah ini, perusahaan akomodasi, agen perjalanan, perusahaan transportasi, dan destinasi dapat menciptakan lingkungan inklusif dan ramah pengguna, memberikan layanan berkualitas tinggi, dan mendukung keberlanjutan dengan melibatkan keragaman tenaga kerja lokal.

Pasalnya pelanggan penyandang disabilitas, persyaratan akses khusus untuk lansia, dan keluarga, mereka dapat mewakili hingga sepertiga pasar global. Aksesibilitas yang rendah, menandakan eksklusif, mengakibatkan ulasan negatif dan memengaruhi reputasi, pada akhirnya memengaruhi pendapatan.

Direktur Eksekutif Pariwisata PBB (UN-Tourism), Zoritsa Urosevic, mengatakan: “Seiring menguatnya pertumbuhan sektor pariwisata, UN-Tourism harus memastikan bahwa semua orang dapat memperoleh manfaat, baik sebagai wisatawan mau pun sebagai bagian dari tenaga kerja pariwisata. Pedoman ini menawarkan langkah-langkah praktis dan dapat dicapai bagi setiap jenis bisnis pariwisata untuk menjadikan aksesibilitas dan inklusivitas sebagai pilar utama pekerjaan mereka, yang memungkinkan mereka meraup keuntungan finansial dan reputasi.”

Keuntungan Lebih Tinggi

“Penerbitan pedoman ini menandai tonggak penting dalam kemitraan antara Pariwisata PBB dan AWE. Kami telah mencapai efek tiga kemenangan dengan pedoman ini: kemajuan bagi industri pariwisata, peningkatan inklusi bagi penyandang disabilitas, dan dukungan bagi kemajuan ekonomi negara-negara berkembang dan emerging,” jelas Susanne Friedrich, Direktur Badan Pengembangan Bisnis dan Ekonomi (AWE), menambahkan.

Fokus jangka panjang pada aksesibilitas memperkuat bisnis. Bukti menunjukkan bahwa perusahaan yang memprioritaskan inklusi disabilitas, meningkatkan kinerja keuangannya, mendorong inovasi, dan membangun organisasi yang lebih kompetitif. Perusahaan yang terdepan dalam penyediaan lapangan kerja bagi penyandang disabilitas cenderung mengungguli pesaing mereka, mencapai pendapatan hingga 28% lebih tinggi, laba bersih dua kali lipat, dan margin keuntungan ekonomi 30% lebih tinggi. Perusahaan yang inklusif disabilitas juga meningkatkan laba hingga empat kali lebih cepat dan mendapatkan manfaat dari retensi karyawan yang lebih tinggi di antara pekerja penyandang disabilitas. *UN-Tourism/BTNewspaper


Share it

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *