ASITA Bali Bersatu, Pariwisata Bangkit

51 Tahun ASITA: “ASITA Bali Bersatu, Pariwisata Bangkit”

Share it

Denpasar, BTNp: DALAM 51 tahun keberadaan ASITA, anggota masih berkomitmen menjalankan fungsi, tugas, kewajiban sebagai ambassador/duta usaha jasa kepariwisataan. Salah dua fungsi tugas dan kewajiban itu adalah menggali potensi destinasi, mendampingi, mengembangkan, memasarkan ke pasar wisata.

Serangkaian HUT ke-51 di tahun 2022, 7 Januari ini, DPD ASITA Bali menyelenggarakan aktifitas olahraga badminton, wisata bersepeda dan mengeksplore hutan mangrove ASITA di Muntig Siokan, Sanur  dan eksplorasi  Desa Cau, Blayu, Tabanan dengan trekking dan parade berbecak yang diperkuat dengan diskusi produk wisata bersama Pokdarwis Cau.

Demikian disampaikan Ketua DPD ASITA Bali, Putu Winastra pada syukuran sederhana 51 Tahun ASITA di ruang serba guna Bali Tourism Board (BTB). Dengan spirit “ASITA Bali Bersatu, Pariwisata Bangkit”, tumpengan secara terbatas dan menerapka ProKes COVID-19 dihadiri sesepuh, penasehat, pengurus DPD dan sejumlah anggota.

Hal eksplorasi potensi wisata, Putu Winastra memaparkan bahwa Desa Cau Belayu ditetapkan sebagai desa wisata dengan Keputusan Bupati Tabanan pada tanggal 19 Agustus 2020. Dan mendapat pendampingan dari kampus PoltekPar Bali dalam program CHSE, teknik pemasaran digital dengan membuat video promosi desa wisata.

Desa Cau Belayu memiliki potensi dan peluang dalam industri pariwisata seperti terdapatnya daya tarik Air Terjun Tukad Pengempu. Juga didukung  aksesibilitas yang sangat baik dan dekat dengan daya tarik wisata popular Sangeh Monkey Forest. Hal ini dapat dimanfaatkan menjadi  spektrum pemasaran Desa Wisata Cau Belayu.

Sebagai duta pengembangan industri pariwisata yang merancang paket- paket wisata dengan merangkai sejumlah aktivitas wisata, melibatkan destinasi, objek- objek layak kunjung dan memadupadankannya dengan produk pendukung lainnya; ASITA juga merasa layak mendampingi dan memasarkan Desa Cau sebagai desa wisata.

BBTF dan Portal ASITA

Memasuki tahun ke 51 dan tahun ke tiga masa pandemi COVID-19, keanggotaan DPD ASITA Bali, masih diangka 406 anggota. Sampai saat ini belum ada anggota yang secara resmi mengundurkan diri, berharap dapat bertahan di tahun 2022. ASITA juga mendata kerugian yang dialami anggota akibat pandemi pada tahun 2020 sebesar 5 triliun rupiah. Selanjutnya, kinerja bisnis makin melemah.

Pandemi, papar Putu Winastra,  juga mengakibatkan terjadinya shifting market mancanegara ke pasar domestik, namun peluang pasar belum tertangani dengan baik. Asosiasi pun belum mencatat laporan kinerja bisnis, anggota yang melayani pasar domestik.

ASITA berharap pemerintah pusat memperlakukan Bali dengan strategi berbeda dengan daerah lain. Pasalnya Bali memiliki perbedaan kinerja perekonomiannya dengan daerah-daerah lain di Indonesia, sehingga menyamaratakan kebijakan penanganan krisis kepariwisataan menjadi bumerang bagi Bali.

“Pergeseran pasar wisata ke depan, diperlukan kebijakan yang berpihak pada pebisnis lokal, “ tegas Putu Winastra menjawab balitravelnewspaper.id.

Sebagai wadah pebisnis biro perjalanan wisata, ASITA berharap pemerintah mempertimbangkan gimmick peraturan masuk Indonesia dari beberapa departemen, hal karantina, visa masuk, aturan rute penerbangan, sebagai contoh. Pasalnya, pembukaan gerbang masuk harus diimbangi kemudahan peraturan ikutannya. Yang pasti dalam situasi kurang kondusif dan sangat dinamis ini, DPD ASITA Bali tetap fokus menjalankan ajang travel mart BBTF dan memantapkan portal digitalisasi ASITA Bali. * BTNewspaper


Share it

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *