City Tour, Genting Highland dan Batu Cave

City Tour, Genting Highland dan Batu Cave

Share it

Kuala Lumpur, BTNp: WISATA ke Malaysia? Untuk masyarakat Bali, “tirtayatra” ke Batu Cave, pikniknya Gentinghighland dan citytour  sembari belanja. Pasar lain, Malaka menjadi tren, ungkap I Dewa Gde Wisnu Arimbawa.

Nah, di hari kedua kunjungan saya ke Malaysia atas undangan Lembaga Tourism Malaysia di Jakarta, saya bersama teman- teman dari Medan, Jakarta dan Surabaya –kota-kota tujuan terbang Malaysia airlines yang kembali dilayani setelah pembukaan border—dijadualkan mengunjungi Batu Cave dan kawasan Genting Highland.

Menurut Siti Fatima, guide yang mendampingi grup saya,  untuk di Kuala Lumpur, paket citytour, Batu Cave dan Gentinghighland masih menjadi pilihan utama wisatawan. Destinasi lain, sangat tergantung pada minat wisatawan.

“Pasar India, wisatawan dari Bali, pasti ke Batu Cave. Sembahyang,” jelas Fatima.

Panjat Tebing, Merpati dan Monyet

Mengunjungi kawasan Batu Cave  bagi saya, tidak hanya sekadar mengulang perjalan relegi menapaki 272 anak tangga—sekarang menjadi tangga beton warna-warni—dan menyerap energi positip dari sekian tempat ibadah umat Hindu Thaipusam di Malaysia.

Kawasan Batu Cave menawarkan lebih dari 160 jalur panjat tebing bagi penikmat aktivitas alam bebas kategori ekstrem ini. Jalur- jalur berketinggian lebih dari 150 meter tersebut sangat menantang dan potensi wisata olahraga alam bebas di Malaysia sedang dikembangkan. Paling tidak melengkapi pilihan berwisata ke Malaysia. Dan Batu Cave tercatat sebagai pusat pengembangan olahraga alam bebas panjat tebing Malaysia.

Berminat, jajal nyali sembari menikmati keramaian umat beraktivitas di Batu Cave?

Selain kaya jalur wisata alam bebas panjat tebing, kawasan Batu Cave juga menjadi rumah tinggal monyet ekor panjang. Dalam kunjungan saya saat ini, kehadiran monyet ekor panjang tidak nampak  berkerumun seperti kunjungan saya beberapa tahun silam.

Kudapan-umkm-batu-cave-malaysia
          Kudapan khas beragam etnis yang berdomisili di Malaysia

Menurut sejumlah pedagang sovenir sekitar Batu Cave, masa pandemi COVID-19 dengan pembatasan kunjungan, sehingga tidak ada pengunjung yang “bersedekah” buah, makanan untuk monyet- monyet tersebut. Secara naluriah monyet- monyet itu,  kembali masuk ke hutan. Sementara habitat burung merpati semakin berkembang. Meskipun terjadi penurunan jumlah pengunjung ke Batu Cave, kebutuhan makanan burung merpati masih terjaga.

Dewa Murugan

Di era tahun 1990-2000 an, ikon kawasan Batu Cave adalah gua dengan tangga kayu. Era 2006 akhir sampai saat ini, eksistensi patung Dewa Murugan menjadi fokus perhatian publik. Terlebih kalangan milenial dan penggemar dunia fotografi. Patung setinggi 42.7 m (140 ft), terletak di luar Batu Caves.

Menurut Siti Fatima –guide dari Hippo Tour and Travel Malaysia– patung seharga lebih dari 24 juta Rupee, terbuat dari 1550 meter kubik beton, 250 ton bar baja dan 300 liter cat emas didatangkan dari Thailand.

UMKM-perlengkapan-sembahyang-batu-cave
         Di Batu Cave tersedia kios kebutuhan sembahyang

Idealnya, “tirta yatra” ke Batu Cave tidak saat festival Thaipusam atau hari raya umat Hindu di Malaysia. Dipastikan kepadatan pengunjung tinggi, pasalnya festival tidak hanya dipadati umat Hindu yang bermukim di Malaysia, juga dihadiri umat Hindu dari negara lain seperti dari India, Australia dan Singapura.

Cave Villa-Batu-Cave-Malaysia
Di luar gua utama Batu Cave terdapat dua gua kuil —Gua Galeri Seni dan Museum Gua—, gua yang dipenuhi patung dan lukisan terakit ajaran Hindu Thaipusam. Kompleks ini direnovasi dan dibuka tahun 2008 sebagai Cave Villa.

Objek “tirta yatra” bagi umat Hindu berada di dalam gua bukit kapur di belakang patung Dewa Murugan. Kompleks Batu Caves terdiri dari tiga gua utama  dengan ketinggian langit- langit gua lebih dari 100 meter yang kaya stalakmit. * Dwi/AsRed Bali Travel Newspaper


Share it

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *