“Service”, Belum Tergantikan Tehnologi AI
DENPASAR, BTNp: PERUSAHAAN– perusahaan besar dunia sudah mendigitalisasi perusahaannya, namun tidak semua kebutuhan industri mampu dijawab dengan tehnologi AI (Artificial Intelligence/kecerdasan buatan). Jasa pelayanan kepariwisataan –service — sampai saat ini belum sepenuhnya tergantikan oleh kemampuan AI, demikian dijelaskan Eka Kurniawan, Head of Partnership & Services Job Street dalam acara Sakira –Saatnya Kita Bicara, DPD ASITA Bali–, Senin, 4 Maret 2024 di Sanur.
Sakira dengan tema ASITA dan DTW: Dulu Jaya, Kini Terlupakan, selain membahas kekinian tehnologi AI — Digitalisasi Sistem Rekrutmen Karyawan Berbasis Teknologi AI untuk Industri Pariwisata—. Juga membahas isu eksistensi ASITA sebagai asosiasi jasa kepariwisataan dimata stake holder dan artisan industri ikutannya, serta dalam kaca mata pemegang kebijakan.
DPD ASITA Bali, melihat pentingnya kaji ulang fungsi tugas masing- masing stake holder diluar kebutuhan reskilling, upskilling disemua dimensi industri kepariwisataan. Kualitas sinergi, kolaborasi dalam ekosistem kepariwisataan, menentukan tingkat ketahanan industri baik bagi destinasi maupun kinerja industrinya. Sinergitas, kolaborasi juga menentukan pencapaian SDGs pada dimensi kepariwisataan berkualitas, berkelanjutan bagi semua pihak.
Perlu dipahami di Tingkat ASEAN pun —dalam Pertemuan Menteri Pariwisata ASEAN (M-ATM) Plus Three ke-23 didahului oleh Pertemuan Organisasi Pariwisata Nasional (NTOs) ASEAN Plus Three ke-44 pada tanggal 23 Januari 2024—sepakat pentingnya meningkatkan keterampilan tenaga kerja pariwisata dan membekali mereka dengan alat-alat berharga, termasuk teknologi digital untuk memungkinkan mereka beradaptasi dengan cara-cara baru dalam berbisnis di sektor pariwisata.
Kebutuhan tenaga kerja ahli, terampil kepariwisataan meningkat sejalan dengan makin pulihnya industri perjalanan dunia. Tercatat berdasarkan angka awal pada tahun 2023, negara-negara ASEAN Plus Three menarik lebih dari 147 juta pengunjung. Kemudian apakah dengan tehnologi yang ada, dapat mejamin kualitas SDM yang diperlukan? Pasalnya kepariwisataan adalah jasa layanan yang kental sentuhan kemanusiaan.
“Tidak cukup keahlian secara teori, diperlukan pengalaman “melayani” dengan baik,” ungkap Ketua DPD ASITA Bali, Putu Winastra, S.Sos.
Kendali
Hal penggunaan tehnologi dalam recruitmen tenaga kerja kepariwisataan menurut Head of Partnership & Services Job Street, hal yang wajar. Lebih lanjut dijelaskan, 71% CEO di Asia Pasifik telah berinvestasi dalam otomatisasi dan digitalisasi untuk perusahaannya. Perkembangan tehnologi yang memantik perekonomian juga membuka 30 juta lapangan kerja baru di Asia Tenggara pada tahun 2030. Tumbuh 50% tambahan lapangan kerja regional karena peningkatan keterampilan
“Penggunaan AI pada posisi recruitmen SDM memiliki risiko dalam hal keamanan, bias, dan penyalahgunaan. Dibutuhkan tenaga ahli untuk mengawasi dan mengoptimalkan AI mengatasi risiko tersebut,” tegas Eka.

Investasi pada kualitas keahlian SDM adalah kunci. Tehnologi selayaknya diposisikan sebagai alat bantu mencapai efeisien, efektivitas secara waktu, ruang dan nilai ekonomi. Mengacu pada Kode Etik Pariwisata Global, penggunaan tehnologi AI juga berpedoman pada etika dan keberlanjutan industri.
Ajang Sakira DPD ASITA Bali, Senin 4 Maret ini dipandu Nyoman Astama, juga membahas sinergi, kolaborasi ASITA dengan PUTRI yang menghadirkan pihak Disparda Bali dan Disparda Kabupaten/Kota se Bali, serta sejumlah Pengelola DTW. *BTNewspaper
