Dari Bias Munjul, “Sea Ambulance” Tingkatkan “Tourism Safety Index”

Dari Bias Munjul, “Sea Ambulance” Perkuat “Tourism Safety Index”

Share it

DENPASAR, BTNp: PERSOALAN akses kesehatan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya selesai, baik bagi masyarakat mau pun pengunjung destinasi wisata di Indonesia.   Bagi masyarakat di kota besar, mencari rumah sakit, klinik, apotek, atau tempat pemeriksaan kesehatan “mungkin” bukan perkara sulit. Kondisi tersebut tidak selalu dirasakan oleh masyarakat desa, di pulau- pulau yang jauh dari pusat pelayanan.

Bagaimana dengan wisatawan, khususnya pelaku perjalanan asing —masyarakat insurance minded— yang berwisata ke Bali?

Secara nasional, Bali menyerap 75% total kunjungan wisatawan dan sekitar 59% wisatawan datang ke Indonesia dengan tujuan utama liburan/rekreasi. Mereka melakukan perjalanan tidak hanya di pulau besar Bali, juga merambah pulau- pulau kecil beyond Bali. Dan Bali diposisikan sebagai destinasi unggulan “menangkap” wisatawan berkualitas, dengan harapan sekembali ke negaranya wisatawan dapat menjadi alat promosi kualitas kepariwisataan Bali.

Hal layanan kesehatan harus diakui masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan masyarakat. Khusus untuk kepariwisataan pada dekade terakhir telah bertumbuh fasilitas klinik layanan kesehatan yang menangani wisatawan baik domestik mau pun mancanegara.

Bagi para pelaku perjalanan, ketika mengalami musibah —sakit, kecelakaan–, persoalannya bukan hanya bagaimana mendapatkan pengobatan, tetapi bagaimana mencapai “tempat” yang bisa memberikan pertolongan. Jika musibah terjadi di darat, evakuasi atau rujukan dapat menggunakan ambulan darat atau jasa helikopter medis sesuai kebutuhan dan tingkat kedaruratan musibah.

Sementara, evakuasi dari kepulauan menuju fasilitas kesehatan di daratan memerlukan transportasi laut. Keberadaan ambulan laut sangat krusial bagi daerah dengan wilayah kepulauan. Pasalnya, laut bukan “tempat bermain”, layanan kedaruratan selain memerlukan peralatan handal, juga didukung SDM yang kompeten. Dan Bali memiliki destinasi wisata pulau seperti tiga pulau di Kecamatan Nusa Penida, Klungkung dan P Menjangan. Beririsan dengan deretan pulau- pulau cantik Gili Terawangan, Meno dan kawan- kawannya di NTB.

Mendukung pertumbuhan kepariwisataan di wilayah Nusa Penida, pemerintah Klungkung era Bupati Nyoman Suwirta, membuka pintu investasi layanan kesehatan. Pemerintah menyediakan, tiga puskesmas dan RS Umum Gema Santi Nusa Penida. Saat ini RSU Gema Santi telah dilengkapi dengan ambulan laut. Layanan kesehatan terbuka bagi sejumlah klinik swasta sebagai penguat ketahanan “keselamatan’ berwisata di Bali.

Nusa Medica Sea Ambulance

Dalam catatan pemerintah Kabupaten Klungkung, pengguna sea ambulance (ambulan laut) milik pemerintah, didominasi oleh kelompok pasien —masyarakat setempat— tertentu karena faktor geografis dan kebutuhan medis darurat yang tidak bisa ditangani di faskes kepulauan. Sebagian besar pasien dengan kondisi medis akut dan mengancam nyawa. Seperti pasien serangan jantung atau stroke mendadak yang membutuhkan penanganan golden period di rumah sakit besar. Ibu hamil yang mengalami distosia (macet melahirkan), pendarahan hebat, atau preeklamsia berat dan memerlukan tindakan operasi sesar segera. Korban kecelakaan lalu lintas, cedera kepala berat, atau kecelakaan kerja di laut/pantai yang membutuhkan tindakan bedah saraf atau ortopedi. Pemkab Klungkung memprioritaskan layanan bebas bea bagi pasien darurat pemegang kartu JKN-KIS.

Tercatat juga pengguna ambulans laut milik RSU Gema Santi dari kalangan wisatawan domestik mau pun asing. Umumnya, mereka membutuhkan evakuasi cepat ke daratan Bali akibat insiden saat berwisata, seperti tenggelam, serangan dehidrasi berat, cidera saat diving/snorkeling, terjatuh di tebing pantai, atau serangan penyakit bawaan.

Kebutuhan ambulan laut, tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah kabupaten atau dari Badan SAR. Pasalnya, kebutuhan layanan kedaruratan medis dari Nusa Penida atau pulau- pulau destinasi wisata sekitar Bali, meningkat sejalan tingkat kepadatan kunjungan wisata.

“Dalam sebulan saat peak season, tercatat lebih dari 30 kasus kedaruratan medis yang memerlukan rujukan ke daratan Bali. Rerata satu kejadian per hari,” ungkap salah seorang oprator layanan kesehatan di Nusa Penida.

Memperkuat layanan evakuasi medis antarpulau, sejumlah klinik swasta telah melengkapi layanan rujukannya menggunakan moda transportasi laut setempat. Pengadaan ambulan laut (sea ambulance) standar bukan investasi “murah”. Ambulan laut tidak hanya ditentukan oleh kehandalan kapal/boat, ada standar baku mutu moda transportasi dilengkapi peralatan medis serta SDM berkompetensi teknis dan kesehatan yang harus dipenuhi.

Medical pac yang harus ada di kabin sea ambulance
Peralatan medis yang wajib tersedia dalam moda sea ambulance

Dan per 22 September 2026, Nusa Medica Clinic Group menghadirkan layanan evakuasi, rujukan “Nusa Medica Sea Ambulance”. Boat standar ambulan disiapkan untuk mempercepat proses rujukan pasien dari kawasan kepulauan menuju rumah sakit dengan fasilitas penanganan yang lebih lengkap.

Menurut Direktur Operasional PT Nusa Medica Assistama, dr. I Gde Yudha Kurniawan, Nusa Medica Sea Ambulance ditujukan bagi masyarakat lokal mau pun wisatawan yang membutuhkan penanganan medis lanjutan.

“Tujuan utama Sea Ambulance ini adalah mempercepat proses rujukan pasien dari klinik atau fasilitas medis tingkat pertama menuju rumah sakit rujukan, sekaligus mendukung dunia pariwisata dari aspek kesiapan pelayanan medis,” kata dr. Yudha.

Nusa Medica Sea Ambulance dilengkapi perangkat medis untuk menunjang kondisi pasien selama perjalanan, di antaranya ventilator, patient monitor, oksigen. Proses evakuasi didampingi personel medis terlatih dan bersertifikat. Dengan dukungan armada, peralatan medis, serta tenaga medis terlatih, proses pemindahan pasien dapat dilakukan dalam satu sistem evakuasi yang terkoordinasi. Untuk wilayah Bali, layanan menjangkau rute Nusa Lembongan–Sanur, Nusa Lembongan–Padang Bai, Nusa Penida–Sanur, dan Nusa Penida–Padang Bai. Jangkauan layanan juga dapat mencapai Gili Air dan Gili Trawangan, menyesuaikan kebutuhan rujukan pasien. Nusa Medica Sea Ambulance ditunjang tiga mesin dengan total kekuatan 750 PK, panjang 11,10 meter, lebar 2,70 meter, dan depth 1,10 meter. Setiap beroperasi ambulan didukung tiga (3) orang tenaga teknis —nakhoda, kepala kamar mesin dan ABK–, minimal dua (2) orang tenaga medis —escort docter, perawat—yang telah mendapat pelatihan khusus dari sebuah lembaga pelatihan dan sertifikasi dari Africa —ahlinya kegawat daruratan di laut–.

“Spesifikasi tersebut kami siapkan untuk mendukung mobilitas evakuasi medis melalui jalur laut, tentunya dengan tetap memperhatikan kondisi pelayaran dan keselamatan pasien,” ujar Call Center Manager Nusa Medica Assistama, Ridho Ananda.

Lazimnya sea ambulance atau ambulan laut yang berfungsi untuk mengangkut pasien darurat dan memberikan perawatan medis di atas air, memiliki kecepatan 30 hingga 35 knot, dirancang tahan terhadap gelombang laut agar kondisi pasien tidak memburuk selama pelayaran.

“Kasus yang membutuhkan rujukan dengan sea ambulance antara lain trauma kepala, patah tulang, diare dengan dehidrasi, penyakit jantung, serta kondisi lain yang memerlukan perawatan lebih lanjut di rumah sakit,” jelas dr. Yudha sembari menambahkan Nusa Medica Ambulance mangkal di Pelabuhan Bias Munjul, Ceningan.

Ambulans laut (sea ambulance) memegang peran krusial dalam memperkuat sistem keselamatan pariwisata (tourism safety) di Bali. Sebagai destinasi wisata internasional, kepopuleran kawasan kepulauan seperti Nusa Penida, Nusa Lembongan, Nusa Ceningan, hingga area tetangga seperti Gili di Lombok memerlukan jaminan evakuasi medis cepat dan andal. Fasilitas ini menghubungkan daerah pulau dengan rumah sakit rujukan utama di Bali daratan secara aman.

Kehadiran Nusa Medica Sea Ambulance diharapkan memperkuat mata rantai rujukan medis antarpulau. Keberadaan ambulan laut meningkatkan indeks keselamatan, kenyamanan—tourism safety index– wisatawan asing mau pun domestik, dan menjadi nilai jual penting bagi reputasi pariwisata Bali di mata dunia. * BTNewspaper


Share it

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *