One Vision One ASITA: Repositioning the Future

One Vision One ASITA: Repositioning the Future

Share it

BADUNG, BTNp: BAGI Ketua DPD ASITA Bali Periode 2026-2031, memimpin kembali pada periode kedua bukan sekadar sebuah kehormatan, tetapi merupakan amanah luar biasa.  Kepercayaan yang menjadi pengingat bahwa masih banyak tugas yang harus diselesaikan, banyak peluang perlu dimanfaatkan, dan masih banyak hal yang dapat dilakukan untuk membawa ASITA menjadi organisasi kuat dan relevan.

Ada keberhasilan yang patut disyukuri, ada tantangan dan tentu terdapat ruang untuk perbaikan. Namun satu hal menjadi semakin jelas tidak ada pencapaian organisasi dari kerja individual. Memasuki periode kedua, saatnya tidak hanya “melanjutkan”, tetapi berani melangkah menuju masa depan yang lebih besar.

“Dengan visi —One Vision One Asita— mewujudkan ekosistem pariwisata yang regeneratif, berkualitas, berkelanjutan, inklusif, dan berdaya saing. Menjadikan ASITA bukan sekadar bagian dari industri, tetapi penggerak pembaruan dan arsitek masa depan pariwisata Bali. Sebab, keberhasilan bukan hanya tentang pencapaian hari ini, melainkan membangun warisan  dan menyiapkan masa depan bagi generasi mendatang. Industri pariwisata terus berubah seiring perkembangan teknologi, AI, perilaku wisatawan, dan tuntutan keberlanjutan. ASITA tidak boleh mengikuti perubahan, tetapi harus menjadi bagian dari arah dan masa depan pariwisata Bali,” tegas Ketua DPD ASITA Bali, terpilih I Putu Winastra, S.AB., M.A.P. dalam MUSDA XV ASITA Bali, bertempat di Jimbaran Convention Centre, InterContinental Bali Resort, Jimbaran, Jumat, 16 Oktober 2026.

Lebih lanjut dijelaskan, menjadi anggota ASITA bukan sekadar memenuhi kewajiban iuran, tetapi juga berkomitmen dan berkontribusi bagi kemajuan organisasi. ASITA yang kuat lahir dari anggota yang peduli, mendukung, dan bergerak bersama. Karena keberhasilan Asita adalah tanggung jawab bersama. Selayaknya asosiasi memperkuat kompetensi anggota, mendorong inovasi, serta menegaskan peran ASITA sebagai mitra strategis pemerintah dan industri dalam merumuskan kebijakan, menjembatani kepentingan, dan menghadirkan solusi nyata bagi tantangan pariwisata. Karena pariwisata Bali terlalu besar untuk dibangun seca parsial, individual. Melalui kolaborasi yang kuat, ASITA harus menjadi penggerak ekosistem pariwisata yang berkualitas, berkelanjutan, inklusif, dan berdaya saing.

“Terpilih kembali untuk periode kedua bukanlah tentang seorang ketua, melainkan tentang kepercayaan, tanggung jawab, dan cita-cita bersama. Saya tidak ingin menjawabnya dengan janji, melainkan dengan kerja nyata, komunikasi transparan, dan keputusan bertanggung jawab. Perbedaan pandangan adalah bagian dari organisasi yang sehat. Terpenting, kita menyikapinya secara profesional, saling menghargai, dan mengedepankan musyawarah mufakat demi kepentingan bersama. DPD ASITA Bali harus tetap menjadi rumah bersama, tempat anggota merasa didengar, pengalaman dibagikan, peluang diciptakan, dan berbagai generasi dapat tumbuh bersama,“ujarnya.

Musda DPD ASITA Bali ke-15 di Jimbaran Convention Centre

Repositioning the Future

Pada kesempatan tersebut Kadis Pariwisata Bali, I Wayan Sumarajaya mengingatkan Ketua DPD terpilih dan anggota ASITA bahwa Bali tidak cukup hanya mendatangkan wisatawan tetapi juga harus mampu menghadirkan pengalaman yang aman, nyaman dan berkesan. Mengacu pada tema MUSDA XV —Repositioning The Future Tourism — ASITA selayaknya memperkuat profesionalisme anggota, meningkatkan kreativitas dan inovasi, memantapkan permasalahan digitalisasi, selain memperluas jaringan yang berorientasi pada Solusi.

Dalam laporan pertanggungjawaban DPD ASITA Bali, Putu Winastra menyatakan bahwa MUSDA adalah momentum untuk berhenti sejenak, melihat perjalanan yang telah lalui, menghargai apa yang telah bangun bersama, dan pada saat yang sama berani bertanya kepada diri sendiri.

“Kedepan, ke mana ASITA Bali akan kita bawa? Karena dunia pariwisata tidak pernah berhenti bergerak,” ungkapnya.

ASITA telah menjadi bagian dari perjalanan panjang industri pariwisata Indonesia. Di Bali, ASITA menjadi bagian penting dari ekosistem pariwisata dan menaungi ratusan Biro Perjalanan Wisata serta Associate Member. Bukan hanya menjual perjalanan dan membawa wisatawan, tetapi ikut membangun pasar, membentuk pengalaman wisatawan, memperkenalkan budaya dan destinasi. ASITA, ikut menjaga profesionalisme industri, perlindungan pengguna jasa, daya saing usaha, serta citra pariwisata Bali dan Indonesia.

Lebih jauh ditegaskan bahwa peran ASITA tidak berhenti pada kegiatan bisnis dan kepentingan internal organisasi, juga tidak hanya berbicara tentang berapa banyak mendatangkan wisatawan. Anggota Asita selayaknya lebih sering bertanya: Apakah kunjungan mereka memberikan manfaat bagi masyarakat? Apakah ekonomi lokal ikut tumbuh? Apakah budaya semakin dihargai dan dilestarikan? Apakah lingkungan menjadi lebih baik?

“Dan apakah generasi yang akan datang masih dapat menikmati Bali dengan keindahan dan nilai yang sama seperti yang kita nikmati hari ini? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membawa kita pada pemikiran penting dan fokus mengenai masa depan pariwisata, yaitu regenerative tourism, “ tegas Putu Winastra.

Regenerative tourism bukan hanya tentang bagaimana mengurangi dampak negatif pariwisata, tetapi tentang bagaimana pariwisata dapat memberikan dampak positif dan meninggalkan destinasi dalam kondisi lebih baik daripada sebelumnya. Dalam konteks Bali, konsep ini sangat dekat dengan nilai-nilai yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan kita tentang keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas —Tri Hita Karana___.

Tiga agenda besar yang menjadi pedoman program DPD ASITA Bali lima tahun ke depan adalah repositioning produk, repositioning pasar, dan repositioning kelembagaan. *BTNewspaper.


Share it

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *