DIN-G-20-Peluncuran-MILA

DIN G-20: Konektivitas dan Pemulihan Pandemi COVID-19

Share it

Nusa Dua, BTNp –  INOVASI digital memiliki peran penting dalam penanganan pandemi global COVID-19 dan percepatan pemulihan pascapandemi serta mendorong ekonomi masa depan sebagaimana hasil pertemuan Forum Digital Economy Working Group (DEWG) Presidensi G20 Indonesia. Pada tahun 2030, diperkirakan 70% dari penciptaan nilai baru dalam perekonomian akan didasarkan pada model bisnis yang diaktifkan secara digital.

Demikian disampaikan Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate dalam pembukaan Digital Innovation Network (DIN) G20 yang berlangsung secara hibrida di Nusa Dua, Badung, Bali.

Data Bank Dunia (2022) menunjukkan valuasi ekonomi digital mencapai 15,5% dari total produk domestik bruto global. Jumlah itu meningkat 2,5 kali lebih cepat dibandingkan 15 tahun terakhir. Inovasi digital secara khusus mendukung bisnis Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta perusahaan rintisan (startup).

“Dengan memperhatikan kombinasi pertemuan Digital Economic Working Group, Presidensi G20 Indonesia sangat mementingkan pertumbuhan ekosistem startup nasional dan internasional, domestik serta global, di mana peran inovasi digital, didukung sepenuhnya oleh anggota G20,” tegasnya.

Menurut  Menteri Johnny DEWG G20 secara khusus menyoroti isu prioritas pertama, yaitu konektivitas, dan pemulihan pasca COVID-19. Konektivitas yang tangguh dan berkualitas tinggi, diakui sebagai elemen mendasar dalam memfasilitasi ekonomi digital yang inklusif dan memberdayakan masyarakat, mendukung inovasi perusahaan rintisan.

Program DIN G20 merupakan kelanjutan dari G20 Innovation League yang diinisiasi Presidensi G20 Italia di tahun 2021 lalu. Kementerian Kominfo menghadirkan lima startup dari negara anggota G20 dan tamu undangan untuk menampilkan inovasi digital di negara masing-masing.

Peluncuran MILA

Pada kesempatan yang sama diluncurkan Meta Immersive Learning Academy ( MILA )—pembelajaran virtual—  bekerja sama dengan Hacktiv8.  Program edukasi yang memfasilitasi para kreator di bidang augment dan virtual reality  pada level pemula maupun profesional .

Kurikulum pada akademi pembelajaran virtual ini mencakup pelatihan secara online dan tatap muka, dirancang khusus untuk mendukung para kreator pemula meningkatkan kemampuan augmented reality (AR) dan virtual reality (VR) hingga mencapai tahap profesional, jelas Noudhy Valdryno selaku Meneger Kebijakan Publik untuk Meta di Indonesia.

Hadir dalam pembukaan DIN G20,  Menteri Komunikasi dan Informasi Singapura, Josephine Teo , Menteri Komunikasi dan Teknologi Digital Afrika Selatan, Khumbudzo Phophi Silence Ntshavheni, VP Engineering & Research, Google, Yossi Matias; dan Head of Corporate Strategy of Zoom, Abhisht Arora.*BTNewspaper/*


Share it

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *