SUVJF 2026: Ketika ‘Nge Jaz” Memberi Ruang “Kehidupan ke Dua”

SUVJF 2026: Ketika ‘Nge Jazz” Memberi Ruang “Kehidupan ke Dua”

Share it

UBUD, BTNp: SEMARAK 13 tahun Ubud Village Jazz Festival dan tahun ke-4 bertransformasi menjadi Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF), tak hanya mengusung music jazz, tetapi juga membuka ruang keberlanjutan dengan memberi “kesempatan ke dua” material yang “disampahkan”.

Penyelenggaraan SUVJF yang dua tahun terakhir “berperang” dengan penggunaan plastik sekali pakai, tahun ini selangkah maju melalui pameran seni visual bertajuk “Second Life: An Exhibition of Found Materials & Upcycled Art”, dengan kurator artisan kolektif seni Kala Patha.

Menampilkan karya delapan seniman kontemporer—Ayu Murniati, Defina Sumardji, Ediwe, I Komang Adiartha, Modjo, Nym Handi Ya, Skinner Ohrami, dan Sofiya Shukhova—yang masing-masing mengubah benda-benda tak terpakai, material daur ulang, dan sisa limbah industri menjadi bentuk-bentuk artistik baru.

Disajikan dengan konsep kuratorial Kala Patha “Island of Hope” (Pulau Harapan), pameran ini membawa pengunjung menelusuri realitas lingkungan Bali, menuju visi yang lebih penuh harapan.

Kehadiran pengunjung, penikmat music jazz disambut oleh poster-poster bergaya propaganda yang menyoroti berbagai tantangan mendesak di Bali. Seperti pariwisata berlebih (“overtourism”), kerusakan lingkungan, tumpukan sampah, dan menyusutnya ruang terbuka hijau. Tak jauh dari situ, terdapat instalasi hasil kolaborasi dengan seniman Edy W, yang mengubah sandal jepit bekas menjadi sosok perempuan yang sedang memanggul batu dari sungai di Bali. Sebuah refleksi mengenai kerja, memori, dan limbah.

Namun, begitu melangkah masuk, suasana berubah total. Warna-warna cerah, instalasi yang jenaka, dan pengalaman ruang yang imersif menciptakan sensasi seolah memasuki sebuah “Pulau Harapan,” tempat kreativitas menawarkan cara pandang alternatif dalam membayangkan masa depan.

Kala Patha juga merancang galeri modular “pop-up” khusus untuk festival ini. Setiap struktur pajangan disesuaikan dengan karakter masing-masing karya seni. Salah satu sorotan utamanya adalah karya Modjo. Dia mengubah sisa material konstruksi—termasuk kaleng cat bekas dan potongan kayu lapis tak terpakai—menjadi karya seni pahat yang terinspirasi oleh karakter khas ciptaannya —bernuansa Barong—.

Bagi salah satu pendiri Kala Patha, Defina Sumardji, pameran ini bukan sekadar ajang memamerkan karya seni, melainkan juga upaya untuk mengubah cara pandang.

“Benda-benda yang telah dibuang bukanlah akhir dari sebuah cerita—melainkan awal dari cerita yang baru. Apa yang oleh banyak orang dianggap sebagai limbah bisa berubah menjadi karya seni patung, lukisan, atau instalasi. Ini hanyalah soal cara kita memandang material tersebut dari sudut pandang yang berbeda,” ungkapnya.

Kehidupan-ke-dua-Jazz-keberlanjutan
Limbah, jika diberikan ruang dapat berubah jadi karya cipta seni dan ada fungsi didalamnya.@SUVJF-2026

Semangat keberlanjutan tidak hanya terbatas pada pameran tersebut, di sekitar “Community Stage”, pengunjung dapat mengisi daya perangkat mereka menggunakan stasiun pengisian daya bertenaga surya, kerjasama dengan InfiSolar. Sistem ini juga memasok sebagian kebutuhan listrik bagi stan-stan festival.

Where the World Swings Together

Semalam (Jumat,7/8) upacara pembukaan Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 berlangsung di Panggung Giri pukul 18.05 dengan penampilan penuh semangat dari Salamander Big Band—orkestra jazz independent asal Bandung— yang merayakan hampir dua dekade kebersamaan mereka dengan formasi sekitar 27 musisi.

Festival bertema “Where the World Swings Together” digelar di tiga area pertunjukan yang saling terhubung: Panggung Giri; Panggung Subak yang terletak di tepi sungai di antara pepohonan beringin dan formasi batuan alami; serta Panggung Komunitas, tempat Westside Vinyl DeeJays memutarkan koleksi piringan hitam bernuansa jazz sepanjang sore.

Penonton juga menikmati penampilan dari Rason Trio dan Imelda Rosalin Quintet, festival berlanjut dengan aksi LaDju, Simone Prattico Java Collective, Dattie Do Duo, Straight & Stretch, serta Michael Ananda Trio di Panggung Giri dan Panggung Subak.

Bukan Suksesi Komersial

Menyoroti filosofi —esensi music jaz– di balik festival ini, Heru Djatmiko,  Panitia SUVJF 2026 menyatakan bahwa kesuksesan komersial tidak pernah menjadi tujuan utama festival ini.

“Kami tidak membangun festival ini untuk mencari keuntungan. Kami membangunnya karena kami mencintai musik jazz,” tegasnya.

Semangat senada juga disampaikan oleh Lasta Arimbawa, General Manager STHALA Ubud Bali, yang mengaku sangat terkesan dengan transformasi total lokasi yang sudah dikenalnya dengan baik tersebut pada tahun ini.

“Hal pertama yang membuat saya terkesan adalah kreativitasnya. Lokasinya sama, namun tata letaknya berbeda. Hal itu sungguh patut diapresiasi,” kata Lasta.

Lasta juga mengenang momen saat konferensi pers pekan lalu, ketika seorang jurnalis bertanya kepada salah satu pendiri festival, Yuri Mahatma, mengenai target jumlah pengunjung tahun ini.

‘‘Saya tidak peduli soal angka. Selama orang-orang datang dan menikmati musiknya, itu sudah cukup bagi saya. Festival ini tidak dibuat untuk mencari keuntungan, melainkan karena kecintaan terhadap musik jazz. Kedua pernyataan tersebut merangkum segalanya tentang semangat festival ini. Ubud Village Jazz Festival dibangun dengan sepenuh hati, “ungkap Yuri. *BTNewspaper


Share it

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *