Tak Sekadar Teh Beras Merah, “Jaje Bali” dan Matahari Terbit

Tak Sekadar Teh Beras Merah, “Jaje Bali” dan Matahari Terbit

Share it

 

TABANAN, BTNp: MENIKMATI kehangatan matahari yang baru terbit diufuk Timur? Di Bali, pilihan tempatnya dari pesisir pantai, diperbukitan, di gunung atau di sudut kampung di bentangan sawah? Yang berjarak dekat pusat keramaian wisata atau yang di pedalaman Bali? Pilihan waktu mengejar matahari terbit juga ada alternatifnya, pagi usai bulan purnama atau subuh di bulan mati — Tilem istilah di Bali–. Pilihan tempat dan waktu, memberi pengalaman berbeda.

Yang popular di Bali, menikmati matahari terbit di pesisir pantai Sanur dan nikmati kuliner khas pesisir di sepanjang pantai. Bagi penikmat pegunungan, berburu matahari terbit di puncak Gunung Batur.

Bagaimana di kabupaten yang menyandang “label” lumbung berasnya Bali, Tabanan? Adalah Jati Luwih, desa wisata lumbung beras merah “organic” dan di tahun 2019 di tetapkan sebagai kawasan subak, warisan budaya dunia, menawarkan paket ”Fascinating Sunrise  at Jati Luwih “.

Paket berdurasi dua (2) jam ini bertarif Rp 150 K, terdiri dari bea tiket masuk kawasan, minuman hangat teh beras merah atau kopi Bali berteman “jaje Bali” – kudapan ringan tradisional Bali—dengan pilihan, ketan hitam kukus, lupis, giling- giling, ubi kukus bertabur kelapa parut, klepon dan tentu lak-lak beras merah.

“Khas dan unik ya teh beras merah Jatiluwih. Warna teh, bau dan cita rasa beras merah itu berbeda,” ungkap salah seorang staf pengelola DTW Jatiluwih.

Tradisi dan Ritual Pertanian

Selling point Jatiluih adalah terasering sawah. Bedanya dengan terasering sawah di Filipina, Vietnam, Laos atau Thailand?

Menikmati saujana desa Jatiluwih, seiring pergerakan matahari “terbangun” dari peraduannya, menjadi pengalaman pribadi bagi masing- masing wisatawan. Terlebih bagi kalangan pemburu “gambar’ alias photographer, videographer.  Pergeseran waktu, tempat pengambilan gambar,  menampilkan tangkapan saujana berbeda.

Pengalaman tidak terlupakan berburu matahari terbit bersama rombongan ibu- ibu dan para gadis yang hendak panen padi ke sawah. Dingin subuh, tidak menyurutkan semangat krama subak menjalakan kewajibannya.

Di Jatiluwih, Anda tidak hanya menikmati matahari terbit dalam saujana asri sembari menghangatkan tubuh dengan teh hangat atau kopi Bali berteman “jaje Bali” pilihan. Anda juga mendapat pemahaman tentang budaya masyarakat agraris di subak Jatiluwih.  Bahwa sistem pengairan –subak– didirikan sejak abad ke-11 dan diajarkan secara turun temurun. Desa Jatiluwih terdiri dari 303 hektare sawah, 597 hektare perkebunan, dan 24 hektare hutan lindung. Dan subak tidak hanya sekadar nama sistem pengairan saja, ada  filosofi, tradisi dan budaya didalamnya. Komunitas subak mengedepankan filosofi hidup selaras alam, sosial dan spiritual (Tri Hita Karana).

Dari sisi tradisi dan budaya, subak  memiliki rangkaian ritual pertanian –lebih kurang 16 upacara– dari memulai proses penyiapan lahan, menanam padi hingga panen tiba. Ada upacara “magpag toya” (menjemput air —Red) ke sumber mata air. Komunitas subak jati Luwih menyebut upacara ini dengan istilah “ke empelan”dengan membuka saluran air di hulu subak.

Dilanjutkan dengan upacara “ngendag tanah carik” untuk kelancaran saat membajak sawah, upacara “ngurit” saat pembibitan, “ngerasakin” membersihkan lahan dari sisa-sisa sampah bajakan.

Upacara “pangawiwit /Nuwasen” mencari hari baik untuk memulai menanam padi. Empat puluh dua hari kemudian dilaksanakan upacara “ngekambuhin”, “pemungkah”, upacara “penyepian” agar tanaman terhindar dari hama/penyakit. Komunitas subak juga melaksanakan upacara “pengerestitian nyegara gunung” di Pura Luhur Petali dan Pura Luhur Pekendungan.

Saat padi mulai berisi, komunitas subak melaksanakan upacara “ngaba asem”, menjelang panen dilaksanakan “ngusaba/mesaba” di Pura Subak (Bedugul), memulai panen dilaksanakan upacara “ngayarin”, usai panen dan padi telah dikeringkan, masing- masing anggota subak melaksanakan upacara  “mantenin”, menyimpan hasil panen di lumbung. Dan setiap 18 bulan sekali komunitas subak melaksanakan upacara “ngaturang sarin taun” –ucapan syukur atas panen– di Pura Ulun Siwi Candikuning.

Kopla’an dan Ani-ani

Anda berniat mencari pengalaman, merasakan ritual pertanian tersebut? Atau berminat dengan aktivitas bertaninya?

Aktivitas bertani di subak Jatiluwih dimulai dari proses mencangkul yang disebut “ngendagin”, kemudian proses “nenggala/makal” yaitu penggemburaan tanah mengunakan alat bajak tradisonal (tenggala). Dilakukan proses meratakan lahan disebut “ngelampit”. Anggota subak juga melakukan pemeliharaan areal pematang sawah, proses ini disebut “ nampadin” menggunakan peralatan tradisional.

Paling popular dikalangan wisatawan adalah mengikuti aktivitas “nandur” alias menanam bibit padi. Sebulan setelah “nandur” dilaksanakan proses “ngebisin/mejukut” yaitu membersihkan tanaman padi dari tumbuhan liar.

Saat padi telah bernas dan menguning, ada aktivitas menarik yaitu “ngulahin kedis” alias mengusir burung yang “melahap” bulir- bulir. Selain memanfaatkan orang-orangan sawah atau “lelakut” untuk menakuti kawanan burung, juga digunakan “kopla’an” dari bambu. Uniknya panen di Jatiluih adalah penggunaan alat tradisional ani- ani.

Atau Anda berniat ikut proses merontokan bulir- bulir padi dari tangkainya? Menumbuk gabah menjadi butiran beras?

Anda perlu meluangkan waktu berlibur di desa wisata Jatiluih, live-in bersama penduduk setempat, mengikuti aktivitas keseharian krama subak di situs warisan budaya dunia. Sebagai traveler bertanggungjawab, sila hubungi Badan Pengelola Jatiluih atau biro perjalanan wisata resmi anggota ASITA yang bersedia merajut aktivitas berlibur Anda di Jatiluih. Pasalnya, Jatiluih tidak cukup disambangi dua- tiga jam berburu matahari terbit dan terasering sawah. *BTNewspaper

 


Share it

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *