Pinjaman Lunak untuk Pelaku Pariwisata

KETUA PHRI Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati ( Cok Ace) meminta pelaku pariwisata di daerah jangan sampai melepas aset-aset yang dimiliki, meski pun di tengah kondisi sulit yang diakibatkan oleh dampak pandemi. Untuk itu dibutuhkan kesabaran dari para pengusaha, sehingga aset-aset masih tetap dapat dijaga.
Selain itu, Cok Ace juga meminta dukungan pinjaman lunak atau soft loan yang telah diajukan kepada pemerintah pusat dan saat ini sedang diperjuangkan oleh Menparekraf dapat segera terealisasi, hal ini untuk membantu industri pariwisata di Bali agar bangkit kembali.
“Tidak hanya soft loan saja yang kami minta dukungan dari pusat, namun program-program lain untuk membangkitkan ekonomi dan pariwisata juga kami harapkan”, ujarnya dalam pembukaan Rakerda BPD PHRI Bali periode 2020-2025 di Ubud, Gianyar.
Menanggapi hal tersebut, Menparekraf RI Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan beberapa kajian terkait program-program untuk mendorong pariwisata Bali. Salah satunya terkait soft loan, pihaknya sudah melobi pimpinan menteri terkait dan segera akan diajukan kepada Presiden untuk disetujui. Selain itu, ia juga tengah menyiapkan terobosan Free COVID Corridor (FCC).
“Jadi rencananya yang boleh masuk kesini adalah wisatawan yang sudah mendapatkan vaksin di negara asalnya dan disini dilakukan antigen dan mereka bisa langsung beraktifitas karena mereka sudah free COVID,” kata Sandiaga.
Dalam pertemuan Menparekraft dengan MenkumHAMRI telah dibahas tentang beberapa hal, termasuk pembukaan Indonesia secara bertahap bagi wisatawan mancanegara, perumusan second home visa bagi WNA, relaksasi bagi warga negara anggota ASEAN, Kebijakan Bebas Visa Kunjungan, serta perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) bagi pelaku Ekraf di lima destinasi super prioritas (DSP).
Sandiaga mengungkap, konsep itu telah diterapkan belum lama ini dengan program datangnya 5.000 tenaga kerja asing asal China di Morowali, Sulawesi Tenggara. Sedang dipelajari pola tersebut agar dapat diterapkan di sektor pariwisata. Penerapannya diprioritaskan terutama di Bali. Untuk mendukung hal tersebut, maka Bali juga bisa mendapatkan satu perhatian khusus dari segi vaksin, khususnya bagi para pekerja di dunia pariwisata. Sandi, berharap terobosan ini menjadi suatu motivasi untuk membangkitkan pariwisata dan ekonomi Bali. *BTNewspaper
