Budaya Bali: Antara Dijaga dan Dijual

Budaya Bali: Antara Dijaga dan Dijual

Share it

Catatan Jujur Sukma Awantari untuk Tri Hita Karana Accreditation

BALI tidak kehilangan budayanya.

Tapi Bali sedang diuji: apakah kita masih menjaga jiwanya, atau hanya mempertahankan bentuknya?

Tidak semua lupa. Masih banyak yang menjaga.

“Pemangku” yang tetap “ngayah” tanpa pamrih.

Seniman yang menari bukan demi tepuk tangan, tapi demi getaran batin.

Petani yang tetap menata subak sebagai doa, berjalan.

Anak-anak muda yang memilih belajar “mejejaitan” daripada scroll TikTok.

Tapi,

suara mereka tenggelam di tengah gemuruh industri yang bergerak tanpa rem.

Budaya Bali kini berdiri di antara dua arah,

antara yang menjaga dan yang menjual.

Antara yang tulus dan yang instan.

Antara yang sakral dan yang viral.

Upacara kini tak hanya untuk didoakan, tapi juga untuk difoto.

Banten yang sakral sering kali lebih dulu diabadikan, sebelum disampaikan.

Tari-tarian yang dulu disucikan, kini juga jadi tontonan yang disesuaikan.

Pura tetap berdiri untuk sembahyang,

tapi makin sering juga jadi latar untuk yang tak sembahyang.*

Ini bukan tentang siapa salah, siapa benar.

Ini tentang merenungkan,

sebelum terlalu jauh berjalan.

Bali bukan panggung.

Budaya kita bukan atraksi.

Ia warisan suci,

bukan warisan untuk dijual.

Kita bukan anti turis. Kita bukan menolak perubahan.

Tapi kita ingin tetap punya arah.

Arah yang tidak melupakan akar.

Arah yang tidak membuat kita kehilangan “wajah” sendiri.

Yang kami khawatirkan bukan orang luar yang tidak paham.

Tapi kita sendiri yang perlahan “terbiasa”.

Terbiasa melihat budaya jadi konten.

Terbiasa menyaksikan kesucian jadi komersil.

Terbiasa membiarkan makna memudar.

Bukan karena tidak ada yang menjaga.

Tapi karena yang menjaga semakin sedikit.

Dan,

yang menjual semakin berani.

Narasi ini bukan tudingan.

Ini panggilan.

Panggilan kepada siapa saja yang masih mencintai Bali,

untuk tidak diam. Untuk tidak hanya mengamati.

Tapi menghidupi. Menjaga. Menyuarakan.

Karena budaya tidak mati dalam semalam.

Ia mati perlahan, ketika yang peduli mulai diam.

Dan mereka yang mencintai, merasa lelah untuk bersuara.

Mari jangan jadi penonton di rumah sendiri.

Mari jadi penjaga.

Walau hanya satu dupa, satu doa, satu tindakan kecil—yang bermakna besar.

Bali bukan hanya milik masa lalu. Tapi amanah masa depan.

Denpasar, 1 Agustus 2025

 


Share it

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *