Prediksi Industri Penerbangan di Tahun 2025

Prediksi Industri Penerbangan di Tahun 2025

Share it

Akankah harga tiket pesawat turun?

Akankah masalah produksi pesawat tetap ada?

Apakah belanja perjalanan balas dendam sudah berakhir?

LUTON, INGGRIS, BTNp: KETUA Analis OAG (Official Airline Guide) John Grant membagikan prediksi barunya untuk industri penerbangan tahun 2025 – termasuk satu prediksi yang menjadi kenyataan lebih awal dari yang diharapkan–. Mari kita lihat apa yang dipikirkan pakar penerbangan OAG tentang kenaikan harga tiket pesawat, merger dan akuisisi, kemajuan menuju keberlanjutan penerbangan, dan persoalan ikutannya.

Tantangan Kapasitas Maskapai

Tantangan kapasitas tahun 2024, berlanjut bahkan hingga 2026. Pasalnya, maskapai berjuang mengatasi dampak masalah MRO (Pemeliharaan, Perbaikan, dan Perombakan) dan penundaan produksi dari produsen pesawat besar.

Harapkan kapasitas tumbuh antara 3-4% selama tahun ini dan jika lebih tinggi, akan menjadi kejutan yang menyenangkan.

Perjalanan Korporat Membaik

Permintaan untuk perjalanan udara secara umum tetap kuat, dan pola perjalanan normal sebelum pandemi berlanjut. Namun, lonjakan revenge spending/pengeluaran balas dendam,  telah berakhir.

Permintaan perjalanan korporat, berangsur pulih, mengimbangi kerugian yang disebabkan oleh para pelancong yang melakukan pengeluaran balas dendam. OAG memperkirakan faktor beban global ditahun 2025 tetap berada pada level yang sama dengan tahun 2024.

Rerata Tidak Turun

Meskipun harga minyak jatuh ke titik terendah sejak September 2018. Pada tahun 2025, harga tiket pesawat tidak mungkin turun secara signifikan, karena keseimbangan antara penawaran dan permintaan tetap penting. Kekurangan pasokan, meningkatnya biaya operasional, bersama dengan Dolar AS yang kuat akan memengaruhi ruang lingkup pengurangan yang dramatis.

Pesawat Single Aisle dan Rute Baru

Teknologi baru dan perluasan pesawat lorong tunggal jarak jauh, menghasilkan serangkaian rute baru yang diluncurkan ke pasar yang lebih khusus. Prediksi wilayah pengembangan adalah Atlantik Utara, Asia Selatan dan Tengah..

AI untuk Efisiensi

Bandara dan maskapai semakin meningkatkan penggunaan AI dalam operasionalnya. Pengelola bandara dan operator penerbangan berupaya efisiensi lebih lanjut dan mengurangi biaya. Penggunaan tehnologi yang berpotensi menghemat waktu, sumber daya, dan mempersingkat waktu proses penyelesaian keberangkatan maupun kedatangan di bandara.

Kemajuan Fasilitas Bandara

Bandara Internasional Dalian Jinzhou Bay (DLC) baru di Tiongkok, yang ditetapkan sebagai bandara lepas pantai terbesar di dunia, dapat segera beroperasi pada tahun 2025.

Bersamaan dengan pembukaan bandara sekunder Mumbai dan Delhi, terminal baru yang tertunda di bandara Guwahati, India, akan dibuka tahun ini.

Di London, ada harapan untuk persetujuan landasan pacu kedua di Gatwick dan Heathrow mulai mengerjakan landasan pacu ketiga. Di sisi lain, proyek bandara Internasional Bangladesh Bangabandhu Sheikh Mujib kemungkinan terhambat penyelesaiannya ditahun 2025 tanpa suntikan dana lebih lanjut.

Merger, Akuisisi akan Dilanjutkan?

Rencana merger “terlama di dunia” antara Korean Air dan Asiana, diprediksi mendapatkan persetujuan regulasi dan mulai dilakukan beberapa penyesuaian jaringan, penjadwalan ulang layanan jarak jauh —pengumuman per 12 Desember 2024–.

Penggabungan, pengambilalihan, dan akuisisi maskapai penerbangan akan terjadi pada tahun 2025. Setidaknya satu transaksi besar diharapkan terjadi di Eropa dan tiga maskapai besar Eropa  menunjukkan minat.

Pesawat eVTOL

OAG juga memprediksi layanan eVTOL (Electrical Vertical Take-Off and Landing) komersial akan diluncurkan di California. Meskipun bukan pengganti jet komersial besar, pesawat empat penumpang ini akan meningkatkan konektivitas ke maskapai penerbangan terjadwal di bandara-bandara utama.

Kembali ke Peraturan Keberlanjutan

OAG mempresdiksi maskapai penerbangan, bandara, dan semua bagian dari industri penerbangan, berupaya menuju operasional  berkelanjutan. Sementara, regulator menemukan cara baru untuk mengenakan pajak berlebihan pada sektor tersebut atau menetapkan batasan kapasitas pada pergerakan atau kebisingan, tanpa menyadari dampak ekonomi dari tindakan tersebut.

Beberapa Negara terpaksa berputar balik arah setelah menyadari kekeliruan cara pandang hal pembangunan berkelanjutan disektor transportasi udara.*BTNewspaper


Share it

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *